{"id":993,"date":"2010-12-24T06:04:11","date_gmt":"2010-12-23T23:04:11","guid":{"rendered":"http:\/\/insanpermata.com\/?p=993"},"modified":"2010-12-24T06:04:11","modified_gmt":"2010-12-23T23:04:11","slug":"ode-sebuah-perjalanan-sebuah-cerpen-persembahan-untuk-hari-ibu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/ode-sebuah-perjalanan-sebuah-cerpen-persembahan-untuk-hari-ibu\/","title":{"rendered":"Ode Sebuah Perjalanan (Sebuah Cerpen Persembahan untuk Hari Ibu)"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>Cerpen Mashdar Zainal<\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong><em> <\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Malam itu, kau bersila di loteng rumah <em>kost<\/em>mu  yang amburadul, beratap angin, disangga kursi plastik yang mulai rapuh  oleh perjalanan musim. Malam itu, kau bercermin pada langit. Menemani  bintang-bintang yang yatim. Menghibur rembulan yang kesepian. Atau  mungkin mengejek kunang-kunang yang tak pernah bisa terpejam meski ia  terkantuk-kantuk di tilam belukar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua tanganmu mendekap jilidan  tebal, yang sesekali kau buka lalu kau tutup lagi. Lalu, kau tersenyum  seolah-olah ditimpa kabar gembira. Hei! Tapi matamu basah. Apa kau  terharu? Ah, kau layaknya seorang kafilah yang bahagia usai berjibaku  menuntaskan rukun kelima.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  Sekali lagi wajahmu tengadah, mematut  di jentera langit, hingga kau temukan mayamu melebur, berbaur dengan  \u00a0gemintang yang menggigil. Segudang kata, yang dulu sempat  terkatung-katung di kepalamu, berjubal-jubal, kini telah kelar kau toreh  di atas wajah-wajah kertas, beratus-ratus lembar. Maka <em>draft<\/em> tebal itu kau tenggelamkan lagi ke dinding dadamu, kau timang-timang serupa bayi cantik tak punya ibu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kau sudah memikirkannya masak-masak, \u00a0jikalau mimpi-mimpimu itu  benar-benar mekar dan jadi bunga (tak hanya bunga di angan maya);\u00a0  jikalau salah satu dari penerbit itu mau menerima naskahmu dan  menerbitkannya menjadi buku, maka pada halaman persembahan, kau akan  menyematkan beberapa kalimat. Kau telah merancangnya jauh-jauh, kalimat  itu begini bunyinya: <strong><em>Karya sederhana ini saya persembahkan  untuk seorang wanita yang tak pernah mengenal nama-nama huruf. Wanita  yang selalu membajui hidupnya dengan sabar dan syukur. Mak, kaulah  inspirasiku\u2026.<\/em><\/strong><strong><em> <\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more-->Demi  apapun, kau begitu mencintai wanita itu. Lebih dari cinta itu sendiri.  Maka kau takkan sanggup membayangkan jika suatu saat nanti ia  meninggalkanmu\u2014sebagaimana seorang lelaki hebat telah meninggalkannya.  Ketika ia memejamkan mata, matamu melirik rambutnya yang mulai memutih  dan tulang-tulang pipinya yang mulai menonjol, kau ingin menangis. Entah  kenapa, kau selalu\u00a0 ingin mengikat serumpun senyum yang kemudian akan  kau pajang di jambangan dadanya. Demi apapun, kau begitu mencintainya.  Sejarah huruf-huruf yang terburai bersama metaforamu terlahir dari  rahimnya yang langut. Kau kembali teringat masa kecilmu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kata  orang, masa kecil adalah surga bagi perjalanan sepaket nyawa, maka kau  selalu mengenang masa kecilmu, di mana bara selalu kau lalui bersama  genggaman tangannya, dimana ia selalu memanen banyak hal dari dalam  selempitan kalung <em>jarit<\/em>nya, mulai dari bintang kemukus sampai nasi bungkus, dan semua itu ia peruntukkan untukmu, hanya untukmu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kau  tak pernah lupa, dulu, di masa kecilmu, sebelum kau terlelap ia selalu  sempat mengisahkan banyak hal padamu. Tapi, yang paling suka ia kisahkan  ialah kisah tentang seorang laki-laki perkasa yang sama sekali tak kau  kenal ranah wajahnya. Kau bisa melihat, betapa lelaki itu serupa emas  pun sutera di matanya. Dan sambil mengecup pipimu ia bebisik, \u201cDarah  lelaki itu, kini masih terasa gejolaknya, dalam darahmu&#8230;\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mengisahkan padamu, bahwa sandiwaranya itu berawal saat ia melanglang jadi buangan<em> <\/em>di  tanah jauh. Tak memiliki siapapun atau apapun. Bahkan jikalau ditimpa  dahaga, seolah ia harus meminum keringatnya sendiri. Ia tak ubahnya  pesakitan di luar bui. Keganasan tanah rantau telah membuatnya  terperangkap dalam labirin-labirin luka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Padamu, ia juga sempat  mengisahkan tentang awal pertemuannya dengan lelaki itu. Ah! Kau menjadi  enggan dan cemburu, kalau-kalau wanita itu bercerita tentang perjalanan  cintanya bersama lelaki itu, tentu lelaki itu lebih istimewa darimu.  Tapi kau teringat, ia pernah berkata, bahwa lelaki itu sekarang telah  menjelma menjadi dirimu. Lantas kau tersenyum dan menenggelamkan kepala  mungilmu dalam dekapannya yang hangat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Waktu itu, kau tak bisa  membayangkan betapa pelik dan birunya perjalanan hidup dan cinta wanita  itu. Yang bisa kau bayangkan hanya beberapa bagian saja, seperti bagian  cerita tentang seorang isteri tua yang menyeret dan meludahi isteri  muda, dan istri muda itu ialah wanita yang kini ada di hadapanmu, wanita  yang pandai bercerita dan begitu kau cinta. Huff, kau sempat bergidik  saat membayangkan bagaimana ia diseret dan diludahi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kerap kau  bertanya-tanya, mungkinkah kisahnya seperti film-film india. Oh ya,  kisah Romeo dan Juliet, atau mungkin Sam Phek Eng Thai. Ah, atau  jangan-jangan malah seperti kisah Laila dan Majnun. Ah, apa itu? Kau  sendiri, mendengar kisah itu dari orang-orang dewasa yang  memproklamirkan dirinya sebagai pecinta, mereka pun mendengar kisah itu  dari para pecinta yang mendahuluinya yang (juga) telah mendengarkan  kisah itu dari para pecinta sebelumnya, dan seterusnya, dan seterusnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sungguh!  Waktu itu, kau masih terlalu hijau untuk bisa mengambil pelajaran dari  kisah-kisah biru. Khususnya kisah-kisah yang berurusan dengan hati orang  dewasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kau benar-benar tak paham, ketika wanita itu berkisah  tentang perpisahan dan kepergian, tentang perantauan lelaki yang ia  puja-puja itu menuju tanah surga yang baka. Ketika itu, perlahan dari  dua sudut matanya mengalir dua anak sungai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDia mangkat saat kau masih berumur satu bulan di sini.\u201d Ujarnya sambil menyentuh perutnya yang kempis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya juga mau ke surga, Mak. Apa saya diizinkan ke sana? Saya ingin menemuinya dan melihat rupanya, Mak.\u201d Responmu waktu itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalu  kamu mau menemuinya, rajin-rajinlah kamu mengunjunginya sehabis sujud,  dengan tengadah tanganmu ke langit, supaya Yang di Atas mau membukakan  pintu langit dan mempertemukanmu dengannya. Apa kamu sungguh-sungguh mau  bertemu dengannya? Walau hanya lewat mimpi?\u201d Tanya wanita itu lembut  tapi berkabut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kau mengangguk. Matamu berbinar-binar, dan wanita  itu seperti menemukan telaga kautsar di dalam matamu. Lantas, dikecupnya  keningmu agak lama, kau memejamkan mata, meresapi sesuatu yang nyaman,  yang mengurai dari bibirnya yang suka berkomat-kamit lama menciptakan  sebuah harmoni bersama gemeletak tasbih yang berputar-putar di sela  jemarinya, di setiap akhir sepertiga malam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kini,  setelah kau beranjak dewasa, barulah bisa kau cerna segala apa yang  pernah ia kabarkan kepadamu. Bagaimana tidak? Berlembar-lembar kisah  telah kau selam, mulai dari ceramah-ceramah, film-film, sampai  buku-buku. Bahkan kini kau telah pandai bercerita, apalagi merangkai  puisi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka impian yang sering menggeliat di kepalamu ialah, kau  bisa mengabarkan pada banyak orang tentang \u00a0tamsil dari perjalanan  wanita itu. Meski wanita itu tak pernah mengenal nama-nama huruf,  apalagi buku, kau yakin sekali ia akan bangga padamu, bilamana kisah  hidupnya dijadikan jilid-jilid, lalu dibaca banyak orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerita  itu sangat berharga bagimu, seolah manik permata yang tersimpan di  tempat yang hanya kau ketahui seorang. Kau bisa membiarkannya tersimpan  aman, dan kau bisa pula mengambilnya kapan kau mau, untuk kau jadikan  sebuah hiasan yang enak kau pandang, dan enak pula dinikmati orang lain.  Kau mafhum sepenuhnya, lisanmu ataupun lisannya tak akan sanggup lagi  untuk menjabarkan kembali perjalanan panjang itu. Maka untuk\u00a0 kembali  merangkai kisah-kisah itu, kau harus menulis sebuah roman, atau paling  tidak sebuah novel.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cJasad boleh rapuh dan mati, tapi apa-apa yang  kutorehkan lewat pena akan menjadi mantra yang membaluriku dalam hidup  abadi.\u201d Bisikmu dalam hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMak, apa Emak mengizinkan  saya, kalau kisah perjalanan hidup Emak\u00a0 saya tulis dan saya jadikan  buku?\u201d suatu kali kau menemuinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTulis? Apa? Jadi buku?\u201d ia mengenyitkan alisnya, kerutan di dahi dan sisi matanya semakin nyata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIya, Mak. Jadi buku, dan dibaca banyak orang.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cApa menurutmu, kisah orang seperti Emakmu ini pantas dijadikan buku?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKenapa  tidak, Mak? Saya yakin sekali, ada banyak hal yang bisa diambil dari  drama yang Mak lakoni selama hidup.\u201d Kau menyakinkannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMakmu ini orang pelon. Bisa saja hikayat yang keluar dari mulut Emakmu ini cuma bualan orang yang mengantuk.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMasih jelas, Mak, di kepalaku. Malam itu, Emak bercerita sambil menangis.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBisa saja waktu itu Emak benar-benar mengantuk.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKisah yang mana, Mak, yang menceritakan ada orang bisa mengantuk sedangkan ia dalam keadaan menangis?\u201d tandasmu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wanita  itu terdiam, tanganya yang rapuh kembali membenarkan letak rambut  putihnya yang menyembul di antara bibir kerudungnya yang kusam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKau sendiri, dapat apa dari bualan Emak ini?\u201d tanyanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBukan  bualan, Mak. Tapi semacam, pelajaran. Dan yang paling banyak saya dapat  dari sana ialah pelajaran tetang sabar dan syukur. Pasti Emak tahu,  selain jujur, sabar dan syukur adalah bekal utama mengarungi samudera  kehidupan. Aku tak pernah bisa menebak-nebak, bagaimana Emak bisa  menakhlukan drama kehidupan yang biasanya hanya bergumul air mata dan  keluh kesah.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHei, setelah jadi anak kuliahan, sekarang kau sudah pandai bermain kiasan, ya?\u201d ujarnya dalam tawa-tawa yang sepi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kau menatapnya perlahan, \u201cBukankah saya belajar semua itu dari Emak?\u201d kau tersenyum.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia balas tersenyum, lalu mengusap kepalamu. Dari tanganya dapat kau rasakan sebuah energi yang selama ini menghidupkan <em>ghirah<\/em>mu untuk selalu optimis memerankan opera kehiudupan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cNanti,  kalau bukunya terbit, saya berjanji, saya akan membacakannya untuk  Emak. Sampai khatam. Apa Emak bisa membayangkan itu?\u201d tak ada yang  menandingi optimismu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wanita itu tersenyum. Kau bertanya-tanya, apakah itu berarti dia mengizinkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cJadi, bagaimana, Mak? Boleh? Diizinkan?\u201d kau bertanya lagi, lebih seperti merajuk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia masih tersenyum, dan senyum itu ia akhiri dengan anggukan mantap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kau  rangkul ia dalam-dalam, beberapa kali kau kecup tangannya yang berbau  asap dapur, rasanya tak pernah cukup ungkapan cinta itu kau  kias-kiaskan. Bukan karena surga ada di telapak kakinya atau karena  perintah Tuhan, tapi kau hanya, sangat mencintainya. Itu saja. Tak perlu  ada uraian atau pertanyaan baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kau terkadang tertawa  sendiri, mengingat lakon hidupmu bersamanya. Selalu saja ada banyak  keajaiban di balik halimun-halimun biru yang menjadi sekat ruang-ruang  kalian. Siapa yang akan menyangka kalau kau bisa meneruskan pendidikan  hingga bangku kuliah. Emakmu hanya seorang buruh cuci.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak pernah  salah kau memperbanyak syukur. Yang Maha Pandai telah menyematkan  segumpal otak encer di batok kepalamu. Kalau tidak, mana mungkin kau  bisa meraih beasiswa prestasi untuk meneruskan pendidikan ke perguruan  tinggi. Waktu itu, sebongkah batu benar-benar bersarang di dadamu. Di  satu sisi kau harus bertebaran menjemput tinta-tinta yang dicecerkan  Tuhan (dan Emakmu menganjurkan itu). Tapi, di sisi lain kau harus  meninggalkan wanita yang punggungnya mulai tak tegak lagi itu. Bahkan  ketika ia melepasmu berangkat, tak ada habis-habisnya kau menangis,  hingga ia mengataimu cengeng.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk mengisi kesepian, emakmu  menerima tawaran dari seorang dokter sibuk, lagi-lagi sebagai buruh cuci  sekaligus pengurus bayi. Sebenarnya kau keberatan dengan keputusan  emakmu itu. Tapi kau sendiri tak mungkin mencegahnya, karena ruang  kalian sudah bersekat, bermil-mil jauhnya. Namun sesekali, kau tak  pernah lupa untuk menjenguknya, berkirim kabar dan mengobati rindu.  Beberapa kali kau menyembunyikan matamu yang berkaca bening, ketika kau  amati wajah itu: rambut-rambut yang mulai memutih, kerutan-kerutan yang  tipis, atau tulang pipinya yang mulai menyembul, hingga tiba-tiba  tergambar dalam benakmu tentang sebuah garis lurus yang mendekati titik  ujung. Dan itu yang selalu membuatmu enggan menjauh darinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pagi  itu, dengan wajah jernih kau jemput dirimu melalui do\u2019a, yang  mengantarmu pada langkah-langkah tegap yang mulai mencengkram gili-gili,  silih berganti. <em>Draft <\/em>naskah tebal itu kau masukan ke dalam  map lalu kau gamit hati-hati agar tidak lusuh. Kau datangi penerbit yang  beberapa waktu lalu mengiklankan diri untuk menerima naskah dari  penulis-penulis pemula. Gugup sekali ketika kau menyerahkan naskah itu.  Keringat di dahimu mengkilat seperti embun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIya, Mas. Naskah Anda  kami terima, untuk kami tampung dan kami seleksi terlebih dahulu.  Rupanya banyak sekali naskah yang masuk ke meja redaksi, sehingga kami  juga harus jeli dalam melakukan penyeleksian.\u201d Orang penerbitan itu  menjelaskan. Maka, embun-embun di dahimu menjadi sejuk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBerapa lama, Mas, jangka waktu untuk kepastian naskah itu nanti terbit atau tidak?\u201d Tanyamu lebih ramah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSekitar  tiga bulan, Mas. Nanti, kalau naskah Anda memang layak terbit, dalam  jangka tidak sampai tiga bulan, kami akan menghubungi Anda.\u201d Jawabnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kau menghela nafas, \u201cOh, baiklah. Akan saya tunggu. Terima kasih, Mas.\u201d Balasmu pula.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kaupun  berjalan sangat ringan, kau mulai menanam benih-benih harapan yang kau  siram dengan sedikit kecemasan. Sejak itu, kau menambahkan satu kalam  lagi dalam setiap do\u2019amu. Tidak lain, supaya naskah yang kau tulis  dengan susah payah itu tak sia-sia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Waktu tentu saja berjalan,  sebulan, dua bulan, kau menanti, berharap ada kabar paling indah yang  akan kau dengar. Tiga bulan lewat, penerbit tidak juga menghubungimu.  Dadamu sesak diberondong kecemasan yang mungkin kau lebih-lebihkan. Maka  untuk yang kedua kalinya kau bermaksud mendatangi langsung kantor  penerbitan itu. Paling tidak untuk mengambil kembali naskahmu. Tapi  mungkinkah? Atau barangkali naskahmu sudah jadi penghuni gudang, atau  kalau lebih buruk lagi keranjang sampah. Dari pertimbangan-pertimbangan  itu, kemudian kau mengurungkan niatmu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBagaimana kabar bukumu?  Apa sudah jadi? Kalau sudah, apa kau masih ingin membacakannya untuk  Emakmu ini?\u201d cecar wanita itu saat kau menjenguknya beberapa waktu lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wajahmu  pasi, tapi kau menyahut juga, \u201cTentu, Mak. Tugas Emak hanya berdoa,  supaya apa yang telah saya tulis itu benar-benar menjadi buku.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Emakmu  tersenyum saja, \u201cDo\u2019a bagi Emakmu ini sudah seperti nafas. Jadi,  bagaimana mungkin Emakmu ini hidup, kalau tidak bernafas.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kau  lega. Bahagia. Dan detik itu, semangatmu kembali meletup-letup. Kau  ingin segera kembali dan menawarkan naskahmu itu pada penerbit lain.  Sedikit kekecewaan memang sempat mengobrak-abrik \u00a0mimpimu. Tapi kau  sudah terlalu pandai untuk mengusir kekecewaan-kekecewaan yang hendak  berlama-lama menginap di bilik dadamu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk kali ke dua,  kau mengirimkan salinan naskahmu itu ke penerbit lain. Seperti  sebelumnya, naskahmu juga diterima dengan baik untuk ditampung dan  diseleksi. Sayangnya, kau sudah kelewat muak untuk terus menunggu dan  menunggu. Selang waktu hampir lima bulan tak ada kabar, naskahmu masih  utuh di meja redaksi, belum tersentuh. Beberapa kali kau hubungi, mereka  selalu memiliki alasan yang tepat untuk menjawab protesmu. Bahkan  dengan ringan mereka memintamu untuk menarik kembali naskah itu bila kau  tidak mau menunggu lebih lama lagi. Dan kau menyepakatinya. Tanpa  banyak bicara, naskah itu kau tarik kembali untuk kau simpan di  ruang-ruang kekecewaan yang tak kunjung lapang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari remang  kekecewaan itu lantas kau bersikukuh dengan keputusanmu yang baru untuk  tetap mencetak lembar-lembar itu sendiri. Tak harus lewat penerbit.  Tentu untuk itu kau harus mengeluarkan banyak biaya. Tapi, bagimu itu  tidak masalah. Demi mimpimu dan senyum wanita itu kau bisa melakukan  banyak hal. Bukankah begitu?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka tanpa pemikiran panjang kau  memakai uang dari beasiswa yang seharusnya kau pakai untuk jatah makan  dan transportmu selama satu semester kedepan.\u00a0 Lalu, kau coba datangi  seorang teman yang biasanya mencetak undangan untuk pernikahan. Kau  merayunya sedemikian rupa, supaya ia sedia meluangkan waktu untuk  tulisanmu, dan kau berhasil. Apapun jadinya, berapapun biayaanya, kau  menyepakatinya. Maka kau tak perlu terkatung-katung seperti saat  menunggu kepastian dari para penerbit itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak perlu menunggu  lama, dipastikan dalam jangka waktu tak sampai satu bulan, naskahmu akan  benar-benar jadi buku dan bisa dibaca orang. Meski konsekuensinya kau  harus memperbanyak puasa dan menempuh jarak beberapa kilometer untuk  sampai di tempat kuliahmu dengan berjalan kaki, hampir setiap hari.  Tapi, lagi lagi, bagimu itu bukan masalah yang patut dikeluhkan.  Untunglah kau sudah bersahabat baik dengan lapar dan trotoar-trotoar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lihatlah! Matamu yang bening bagai tasik kautsar itu kembali. Ada  kebahagiaan tersendiri yang tak dapat kau ceritakan ketika seratus  eksemplar buku telah bertumpuk rapi di depan matamu. Agak lama kau  tersenyum menatap beku eksemplar-eksemplar itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanganmu  bergerak,\u00a0 kau jumput satu dan kau usap lembut seolah ada butir debu  yang berbaring di sana. Kau menghela nafas lalu kau cium buku itu. Bau  cat sablon kemudian menyengat penciumanmu. Tak apa. Untuk selanjutnya  kau sisir halaman buku itu dari lembar ke lembar. Ketika sampai pada  halaman persembahan, matamu kembali menjadi kaca-kaca retak. Kau hampir  tak percaya kalau yang kau pegang itu adalah hasil dari tarian jemarimu  sendiri, kau cetak-cetak sendiri. Tentu saja itu tidak berlebihan. Kau  menyebut itu sebagai perjuanagan. Setiap kali dadamu sesak, dan kakimu  mulai gemetar, bibirmu selalu bergumam, \u201cSesungguhnya setelah kesusahan  selalu ada kemudahan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Awalnya, kau  membagikan buku-buku itu gratis untuk beberapa teman dekat. Kau bahagia  sekali ketika mereka menaggapinya dengan hati. Bahkan beberapa di antara  mereka mengaku salut setelah membaca bukumu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAku bohong kalau tidak menangis membacanya. Karyamu benar-benar biru.\u201d tutur seorang temanmu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAku berani taruhan, penerbit itu akan menyesal menelantarkan naskah tulisanmu ini.\u201d ujar yang satunya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAku berani menyebarkan buku ini secara eceran ke teman-teman kita di  kampus. Tidak gratis tentunya. Hahaha&#8230; Sekarang pertanyaannya, kau  berani menyemat harga berapa untuk tiap eksemplarnya?\u201d tanya yang lain.  Kau melihat keseriusan itu di mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ah! Kau tak  dapat lagi berkata-kata mendengar komentar-komentar mereka. Yang ingin  kau lakukan hanya menemui emakmu dan memperlihatkan buku itu padannya,  lalu berbaring di pangkuannya dan membacakan buku itu untuknya. Dan  selebihnya, rencanamu, buku-buku itu akan kau serahkan pada  teman-temanmu untuk mereka sebarkan, gratis atau komersil, kau tak  terlalu mempedulikan itu. Yang \u00a0paling utama, buku itu dibaca orang, dan  meninggalkan bekas bagi siapapun yang membacanya. Cukup, itu saja. Tak  lebih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi, pada suatu ketika yang tak pernah kau  duga sebelumnya, saat kau berangkat menuju kuliah, dan langit sehabis  hujan, kau disengat oleh sebuah kejutan kala. Kau menemukan beberapa  lembar dari halaman bukumu telah jadi carik-carik kertas basah yang tak  berarti, berceceran di trotoar-trotoar pinggir kampus. Sebagian dibuat  origami burung-burungan dan kapal-kapalan. Malah <em>cover<\/em>nya  mengambang terombang-ambing angin dalam kubangan becek bekas hujan.  Dadamu sesak. Kelewat sesak. Maka kau punguti kertas-kertas basah itu  satu persatu. Kau tak ingin menangis. Kau selalu pandai untuk merangkai  alternatif-alternatif kemungkinan yang tidak membuat dadamu semakin  sesak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terkadang, Tuhan memang suka memancing  kesabaran manusia. Dan mungkin, Tuhan sudah tidak tahan untuk mecoba  kekesalanmu yang berhari-hari kau giring ke ladang lepas, suapaya tidak  menghabiskan kesabaran yang kau tanam bertahun-tahun, yang ditularkan  emakmu sedari kecil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lihatlah! Kali itu, Tuhan menggodamu lewat  hujan. Sore itu, kau dalam keadaan lemas, perutmu melilit dan kepalamu  terasa berat, kau berjalan limbung saat memasuki kamar <em>kost<\/em>mu.  Kau benar-benar mau pingsan saat kau dapati tumpukan buku-bukumu itu  menjadi hantu, ada yang meleleh kehitaman, betapa mengerikan. Kau  terpaku mengamati buku-bukumu yang basah dan tak karuan. Tintanya luntur  ditingkah hujan yang bersekongkol dengan lubang-lubang atap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kau  berlari menghablur ke buku-buku itu. Kau periksa satu persatu. Dan\u2026  Sudah tak terbaca. Hanya berupa kertas lembek yang belang-belang, yang  hanya patut untuk perapian penahan dingin. Gumpal di dadamu menjadi  batu, semakin sesak, tajam dan berat. Mulutmu tak bersuara. Tetapi,  sesuatu yang hangat kau rasakan meleleh di wajahmu. Kau buntu. Tak tahu  lagi harus berbuat apa. Tiba-tiba tanganmu meraba-raba tas basah yang  berkait di pundakmu. Kau buka tas itu tergesa-gesa. Kau acak-acak  isinya. Kau sempat menghela nafas saat kau dapati satu eksemplar buku  dalam tasmu masih utuh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAku akan segera pulang, dan memperlihatkan buku ini pada emak.\u201d Lirihmu pilu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika  kau berdiri, kau takjub. Berjuta kunang-kunang menari-nari di matamu  lalu pindah ke kepalamu, bergantian dengan kelebat wajah emakmu yang  sayu. Kau tidak tahu, apakah waktu itu kau benar-benar mengantuk.  Nyatanya semua gelap, seperti saat kau tertidur, bahkan tak ada mimpi  sama sekali. Hanya gelap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat matamu tersingkap,  barulah kau rasakan seperti mimpi. Tiba-tiba wanita itu sudah mengusap  kepalamu dengan mata gerimis. Mulutmu gagu ketika hendak berkata-kata.  Emakmu yang memahami kebingunganmu segera menjelaskan, \u201cTenanglah! Kau  berbaring saja. Sepertinya penyakitmu kambuh. Sudah kubilang, jangan  terlalu capek, apalagi telat makan. Semalam, teman-temanmu nekat  jauh-jauh membawamu pulang. Pagi tadi mereka pamit dan cuma titip salam  untukmu, lekas sembuh. Kau tahu, sudah hampir seharian kau ambruk?\u201d ia  terdiam dan kembali mengusap kepalamu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kau meraih tangannya yang  dingin untuk kau bawa ke pipimu yang seperti bara. Tiba-tiba kau  teringat sesuatu. Buku itu. Matamu terbelalak mencari-cari buku itu. Kau  tidak menemukannya. Kau lepaskan tangannya dari genggamanmu dan  beranjak gontai hendak mencari-cari buku itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi,  Hei! Apa ini? Kau takjub lagi. Kunang-kunang itu kembali untuk  mengantarmu pada tidur yang gelap. Melepasmu dari lelah dan sesak yang  menggulungmu berhari-hari. Mana kau tahu, emakmu menangis lagi, saat  didapatinya kau terjerembab ke tanah lalu tertidur dengan lelehan merah  pekat dari lubang hidungmu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Bersamaan dengan itu,  emakmu\u00a0 mendengar seseorang mengetuk pintu. Tukang pos rupanya. Ia  membawa sepucuk surat untukmu. Aih! Andai saja kau tahu dari mana surat  itu. Surat itu dari penerbit. Apa kau juga mau tahu isinya? Isinya  adalah surat kontrak dari penerbit berikut pernyataan bahwa naskahmu  diterima dan akan segera diterbitkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Emakmu kaku mentapmu yang  masih rebah di tanah. Benaknya kalut. Bahkan ia tak sempat memanggil  orang untuk membantu mengangkatmu dan memindahkanmu ke tilam. Emakmu <em>ling-lung<\/em> menatapmu dan amplop itu bergantian. Ia tahu, surat itu untukmu. Untuk  siapa lagi? Sayang sekali, ia tak bisa membacanya. Haruskah ia memanggil  seseorang untuk membaca surat itu? Ah, tidak. Biar kau sendiri yang  membacanya. Ia benar-benar tak akan membuka surat itu sebelum kau  bangun. Ia akan menunggumu, sampai kau bangun. Tapi, sepertinya tidurmu  sudah terlalu lelap, melebur bersama mimpi-mimpimu yang lenyap tertikam  gelap. Apa kau hendak bangun?***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Malang,\u00a0 2009-2010<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Catatan: Cerpen ini meraih juara III Lomba Cerpen Islami FLP Jember se Jawa Timur 2010<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>Cerpen Mashdar Zainal Malam itu, kau bersila di loteng rumah kostmu yang amburadul, beratap angin, disangga kursi plastik yang mulai rapuh oleh perjalanan musim. Malam itu, kau bercermin pada langit. Menemani bintang-bintang yang yatim. Menghibur <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/ode-sebuah-perjalanan-sebuah-cerpen-persembahan-untuk-hari-ibu\/\" title=\"Ode Sebuah Perjalanan (Sebuah Cerpen Persembahan untuk Hari Ibu)\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7,1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-993","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-guru-menulis","7":"category-uncategorized"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/993","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=993"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/993\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=993"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=993"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=993"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}