{"id":967,"date":"2010-12-15T10:11:59","date_gmt":"2010-12-15T03:11:59","guid":{"rendered":"http:\/\/insanpermata.com\/?p=967"},"modified":"2010-12-15T10:11:59","modified_gmt":"2010-12-15T03:11:59","slug":"bila-anak-anak-korban-perang-menuliskan-perasaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/bila-anak-anak-korban-perang-menuliskan-perasaan\/","title":{"rendered":"Bila Anak-anak Korban Perang Menuliskan Perasaan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/sekolahmenuliskearifan.com\/?p=721\"><img decoding=\"async\" src=\"file:\/\/\/C:\/DOCUME%7E1\/user\/LOCALS%7E1\/Temp\/moz-screenshot-2.png\" alt=\"\" \/><\/a><a href=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2010\/12\/korbanperang01.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright size-full wp-image-968\" title=\"korbanperang01\" src=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2010\/12\/korbanperang01.jpg\" alt=\"\" width=\"100\" height=\"263\" \/><\/a><a href=\"http:\/\/sekolahmenuliskearifan.com\/?p=721\">SEKOLAH MENULIS KEARIFAN<\/a>-Pertengahan Okober ini, di Damaskus, Syria,  diluncurkan sebuah buku yang sangat menggugah. Buku yang diberi judul,  \u201cKakiku di Atas dan Aku Berjalan dengan Tangan\u201d itu merupakan kumpulan  tulisan anak-anak korban perang yang terpaksa mengungsi ke negeri itu.  Anak-anak itu adalah pengungsi dari Irak, Palestina, dan juga Somalia  yang diurus oleh Komisi PBB untuk pengungsi, UNHCR perwakilan Syria.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Judul buku itu sendiri diambil dari tulisan salah satu dari mereka,  Yusuf Laits (7) tahun, yang aslinya menulis \u201cKakiku di atas dan aku  berjalan dengan tangan ke Australia\u201d. Kegiatan menuliskan perasaan  sebagai pengungsi tersebut, digagas dan dikelola oleh seorang wartawan  Syiria, Bari Khalil.<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bari Khalil berkisah, \u201cBuku ini merupakan upaya yang bisa saya  lakukan untuk menggali kenyataan. Betapa bekerjasama dengan anak-anak  pengungsi itu sungguh pengalaman mengagumkan. Setiap anak menuliskan  pengalamannya, kenapa mereka terusir dari negerinya, serta apa persepsi  mereka tentang invasi dan penjajahan atas negeri mereka. Siapapun  tidak akan menyangka kemampuan mereka dalam mengungkapkan itu semua.  Realitas yang sesungguhnya seringkali datang dari mulut anak-anak.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bari Khalil menambahkan, \u201cAnak-anak pengungsi itu tidak punya waktu  untuk mendengarkan kisah-kisah khayalan, seperti cerita tentang Tuan  Putri yang Tertidur, Sinbad, Ali Baba, dan sejenisnya. Kisah mereka  adalah \u2018warna-warna merah, kekerasan, dan keterasingan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2010\/12\/korbanperang02.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-full wp-image-969\" title=\"korbanperang02\" src=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2010\/12\/korbanperang02.jpg\" alt=\"\" width=\"218\" height=\"164\" \/><\/a>Salah satu tulisan di buku itu dibuat oleh Aminah Bayati (14). Ia  menulis tentang negerinya, Irak yang terluka. \u201cSebuah mobil meledak di  salah satu jalanan Irak. Ledakan yang sangat besar. Aku membayangkan,  sekiranya itu adalah mobil es krim, niscaya Baghdad akan penuh dengan es  krim yang lezat,\u201d tulis Aminah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasan Adeli (10) menulis juga tentang negerinya, Irak yang terkoyak,  \u201cAku menonton berita di televisi ada berita yang sangat-sangat buruk  tentang Irak. Lalu aku membuat senjata api dari roti, dan televisi itu  pun meledak.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Abbas Ali (11) menulis, \u201cWarna kuning dan biru pekat bermain-main  dengan asyik, lalu datanglah warna merah menghancurkan permainan. Dan  negeriku adalah Irak.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nur Adeli (10) menulis, \u201cAku tidak ingin kebenaran itu tersembunyi seperti setitik air.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Abbas Ali juga menulis tentang mengungsi, \u201cKami sangat tersiksa di  sepanjang perjalanan. Orang-orang memberhentikan kami di perbatasan,  sampai kami tiba di Syria. Padahal aku belum tahu jalanannya, belum  terbiasa dengan situasinya. Aku waktu itu sangat terguncang, karena kami  keluar dari negeri kami, Irak, disebabkan perang. Aku adalah seorang  pengungsi yang berduka.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tulisan-tulisan itu begitu menyentuh. Lucunya, ada beberapa kalimat  yang kurang huruf, kurang titik. Menanggapi hal itu, Bari punya  pandangan sendiri. \u201cApa yang mereka tulis seperti kota mereka yang baru,  yang mereka sendiri tidak tahu itu di mana. Huruf-huruf yang kurang  pada kata dan kalimat yang mereka tulis seperti rumah mereka dan  jalanannya. Penuh dengan asap ledakan. Impian mereka seperti udara yang  hampa.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Diterjemahkan Dalam Lukisan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright\" title=\"Anak-anak korban perang\" src=\"http:\/\/sekolahmenuliskearifan.com\/images\/news\/korbanperang03.jpg\" alt=\"Anak-anak korban perang\" width=\"245\" height=\"362\" \/>Peluncuran  buku itu terasa sangat istimewa. Sebab, acaranya dilanjutkan dengan  pameran lukisan di mana 20 orang pelukis diundang dan diminta membuat  lukisan yang menggambarkan perasaan yang telah ditulis anak-anak  pengungsi itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pameran yang dihadiri oleh banyak sekali pengunjung itu memang  mengagumkan. Raba Quwais, salah satu pengunjung mengatakan, \u201cPameran ini  sungguh menakjubkan. Idenya sangat mengagumkan, dimana digabungkan  antara tulisan anak-anak pengungsi dengan lukisan seniman.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu pelukis, Tania Kiyali mengatakan, \u201cSaya diundang untuk  berpartisipasi mengubah ke dalam gambar apa-apa yang ditulis oleh  anak-anak itu, yang dapat mengungkapkan beban yang mereka\u00a0hadapi,  perasaan mereka, pikiran mereka, yang mereka tinggalkan di tanah air  mereka.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tania sendiri melukis untuk tulisan seorang anak bernama Bilsan, umur  12 tahun. Anak itu bercerita tentang kepergiannya dari Palestina. Anak  itu menuliskan, \u201cWaktu terjadi perang di Palestina, aku hanya sempat  mengambil benda kecil di dalam tasku, pada saat yang sama aku hanya bisa  mengambil aroma tanahnya dan meletakkanya di hidungku.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelukis lain, Karim Qabrawi, yang melukis tulisan Abbas Ali, tentang  warna kuning dan biru yang dihancurkan warna merah, mengatakan,  \u201cPelukis, biasanya berusaha menangkap pesan pada anak sebagai obyek.  Sedang di sini, sangat unik di mana anak-anak itu yang membawa pesannya  untuk pelukis melalui ungkapan tulisan mereka. Program ini memberikan  spirit baru sekaligus tantangan bagi kami.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Bidang Sosial lembaga itu, Zahrah Mirghani mengatakan,  \u201cAnak-anak ini memiliki perasaan yang sangat sensitif, dilihat dari usia  mereka yang masih kecil-kecil. Setiap cacat yang melukai dunia  anak-anak itu akan memberi bekas besar bagi perkembangan dan kesehatan  jiwa mereka. Masa depan mereka bisa menyimpan masalah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Media-media setempat, merespon dengan luar biasa acara terebut. Di  antaranya ada yang mengawali beritanya dengan menulis,\u00a0 \u201cBagamana bila  anak-anak menuliskan kehidupan mereka yang asing, atau kisah-kisah yang  mereka dengar dari keluarga mereka. Kemana mereka hendak mencari mimpi?  Bagaimana mereka mengisahkan kota-kota di pengungsian yang boleh jadi  bukan di sana mereka dilahirkan. Yang menjadikan mereka secara sederhana  harus memiliki sebutan \u2018pengungsi?\u2019. (zairofi am)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>SEKOLAH MENULIS KEARIFAN-Pertengahan Okober ini, di Damaskus, Syria, diluncurkan sebuah buku yang sangat menggugah. Buku yang diberi judul, \u201cKakiku di Atas dan Aku Berjalan dengan Tangan\u201d itu merupakan kumpulan tulisan anak-anak korban perang yang terpaksa <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/bila-anak-anak-korban-perang-menuliskan-perasaan\/\" title=\"Bila Anak-anak Korban Perang Menuliskan Perasaan\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-967","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-artikel","7":"category-uncategorized"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/967","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=967"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/967\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=967"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=967"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=967"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}