{"id":955,"date":"2010-12-12T11:50:11","date_gmt":"2010-12-12T04:50:11","guid":{"rendered":"http:\/\/insanpermata.com\/?p=955"},"modified":"2010-12-12T11:50:11","modified_gmt":"2010-12-12T04:50:11","slug":"fenomena-hujan-dalam-alquran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/fenomena-hujan-dalam-alquran\/","title":{"rendered":"Fenomena Hujan dalam AlQuran"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2010\/12\/hujan.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-958\" title=\"hujan\" src=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2010\/12\/hujan-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\" \/><\/a><a href=\"http:\/\/www.ikadi.or.id\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:fenomena-hujan-dalam-alquran&amp;catid=40:kemukjizatan-ilmiah&amp;Itemid=69\">ikadi.or.id<\/a> &#8211; &#8220;<em>Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan  air dari langit, maka diatur-Nya menjadi sumber-sumber di bumi kemudian  ditumbuhkannya-Nya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam  warnanya, lalu ia menjadi kering lalu Kami melihatnya kekuning-kuningan,  kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang  demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang  berakal<\/em>&#8220;. (QS.<strong>Az-Zumar<\/strong> 21).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hujan merupakan anugerah yang diberikan Allah SWT bagi semua makhluk di  alam semesta. Tetesan air yang turun dari langit menjadi sumber  kehidupan bagi semua makhluk hidup. Berkat kekuasaan Sang Khalik, setiap  saat miliaran liter air berpindah dari lautan menuju atmosfer lalu  kembali lagi menuju daratan. Kehidupan pun bergantung pada daur air ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Harun Yahya dalam The Signs in The Heavens and the Earth for Men of  Understanding yang dialihbahasakan dalam Pustaka Sain Populer Islami:  Manusia dan Alam Semesta terbitan Dzikra. menjelasan kekuasaan Allah SWT  dalam menciptakan hujan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Harun juga membuktikan kebenaran dan kesesuaian ayat-ayat Alquran  yang menjelaskan fenomena hujan dengan sains modern. &#8221;Andai manusia  mencoba mengatur daur di alam semesta, maka tak akan pernah berhasil,  walaupun mengerahkan semua teknologi yang ada di bumi,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanpa harus menggunakan biaya dan teknologi, makhluk hidup di bumi  bisa menikmati air melalui proses penguapan. Menurut Harun, setiap  tahunnya 45 miliar liter kubik air menguap dari lautan. Air yang menguap  tersebut dibawa angin melintasi daratan dalam bentuk awan. Setiap tahun  3-4 miliar liter air dibawa dari lautan menuju daran untuk dapat  dinikmati dan dimanfaatkan manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk itulah Alquran mengajak manusia untuk mensyukuri hujan sebagai  karunia yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya. Dalam Alquran surat Al  Waaqi&#8217;ah ayat 68-70 Sang Khalik berfirman,&#8221;Maka terangkanlah kepada-Ku  tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan  ataukah Kami yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, nisaya Kami  jadikan dia asin, maka mengapa kamu tidak bersyukur.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Harun, Alquran dalam surat Az-Zukhruf ayat 11 mendefinisikan  hujan sebagai air yang dikirimkan &#8221;menurut kadar.&#8221; Dalam ayat itu  Allah berfirman, &#8221;Dan Yang menurunkan air langit menurut kadar (yang  diperluka).&#8221; Harun menjelaskan, firman Allah SWT itu sangat sesuai  dengan hasil kajian ilmu pengetahuan modern.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Betapa tidak. Hujan turun ke bumi dengan takaran yang tepat. Takaran  pertama yang berhubungan dengan hujan tentulah kecepatan turunnya.  Menurut Harun, benda yang berat dan ukurannya sama dengan air hujan,  bila dijatuhkan dari ketinggian 1.200 meter, akan mengalami perceoatan  terus menerus dan akan jatu ke bumi dengan kecepatan 558 km\/jam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8221;Akan tetapi rata-rata kecepatan jatuhnya air hujan hanyalah 8-10  km\/jam,&#8221; papar Harun. Ia menjelaskan, air hujan jatuh kebumi dengan  kecepatan yang rendah, karena titik hujan memiliki bentuk khusus yang  mampu meningkatkan efek gesekan atmosfer dan membantu hujan turun ke  bumi dengan kecepatan yang lebih rendah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Harun menuturkan, &#8221;Andaikan bentuk titik hujan berbeda, atau  andaikan atmosfer tak memiliki sifat gesekan, maka bumi akan menghadapi  kehancuran setiap hujan turun.&#8221; Menurut dia, ketinggian minimum awan  hujan adalah 1.200 meter. Efek yang ditimbulkan satu test air hujan yang  jatuh dari ketinggian tersebut sama dengan benda seberat satu kilogram  yang jatuh dari ketinggian 15 cm.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8221;Awan hujan pun dapat ditemui pada ketinggian 10 ribu meter. Pada  kasus ini, satu tetes air yang jatuh akan memiliki efek yang sama dengan  benda seberat satu kilogram yang jatuh dari ketinggian 110 cm,&#8221; tutur  Harun. Ia menambahkan, dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air  menguap dari bumi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jumlah itu, ungkap Harun, sama dengan jumlah air yang turun ke bumi  dalam satu detik. &#8221;Dalam satu tahun, diperkirakan jumlah ini akan  mencapai 505&#215;1.012 ton. Air terus berputar dalam daur yang seimbang  berdasarkan takaran.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam surat An-Nahl ayat 10-11 Allah SWT berfirman, &#8221;Dialah yang  telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi  minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat  tumbuhnya) kamu mengembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu  dengan air hujan itu tanaman-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala  macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada  tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang tak kalah menarik untuk dicermati, Alquran menjelaskan bahwa air  hujan adalah &#8221;tawar&#8221;. Dalam surat Al Waaqi&#8217;ah ayat 68-78, Allah SWT  secara tak langsung Allah SWT telah menyatakan bahwa air hujan yang  dinikmati umat manusia rasanya tawar. &#8221;&#8230;<em>Kalau Kami kehendaki, niscaya  kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?<\/em>&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara tegas dalam surat Al-Mursalat ayat 27, penjelasan tentang air  tawar dijelaskan secara tegas. &#8221;&#8230;<em>dan Kami beri minum kamu dengan air  yang tawar.<\/em>&#8221; Tak hanya tawar, air yang diturunkan Allah SWT pun dijamin  bersih. Dalam surat Al Furqan ayat 28, Allah SWT berfirman,&#8221;&#8230; Kami  turunkan dari langit air yang amat bersih.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ayat-ayat tersebut dapat dijelaskan kebenarannya berdasarkan sains.  Menurut Harun, air hujan berasal dari 97 persen penguapan air laut yang  asin. Lalu mengapa ketika turun ke bumi dalam bentuk air hujan menjadi  tawar? Harun menuturkan, air hujan bersifat tawar karena adanya hukum  fisika yang telah ditetapkan Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8221;Berdasarkan hukum ini, dari manapun asal penguapan air, baik dari  laut yang asin, dari danau yang mengandung mineral, atau dari dalam  lumpur, air yang menguap tidak pernah mengandung bahan lain,&#8221; paparnya.  Harun mengungkapkan, air hujan akan jatuh ke tanah dalam keadaan murni  dan bersih, sesuai ketentuan Allah yang telah dijelaskan dalam surat Al  Furqan di atas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebenaran Alquran telah diakui para saintis Barat. Prof Alfred  Kroner, guru besar Departemen Geosains Universitas Mainz, Jerman,  mengaku terkagum-kagum dengan isi Alquran yang mampu menjelaskan asal  mula terbentuknya alam semesta. &#8220;Memikirkan dari mana Muhammad berasal  &#8230; saya berpikir hampir tak mungkin dia telah mengetahui banyak hal  tentang asal mula alam semesta,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p>Atas dasar itu, Prof Kroner juga meyakini bahwa Alquran yang disampaikan  Nabi Muhammad SAW adalah firman yang berasal dari Tuhan. Hal senada  diungkapkan Prof Yushidi Kusan, direktur Observatorium Tokyo, Jepang,.  Ia juga menyatakan sangat terkagum-kagum dengan apa yang dijelaskan  Alquran tentang alam semesta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saya sangat terkesan dengan fakta-fakta astronomi dalam Alquran yang  terbukti kebenarannya. Kami, para astronom modern, baru mempelajari  secuil saja tentang alam semesta,&#8221; ungkapnya. &#8220;Dengan membaca Alquran  dan menjawab pertanyaan, saya kira, saya dapat menemukan jalan di masa  depan untuk menginvestigasi alam semesta.&#8221; hri<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Proses Pembentukan Hujan dalam Alquran<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para saintis telah mempelajari beragam jenis awan. Selain itu,  kalangan ilmuwan juga meneliti proses terbentuknya awan dan bagaimana  hujan terjadi. Secara ilmiah, saintis memaparkan proses terjadinya hujan  dimulai dari awan yang didorong angin. Awan Cumulonimbus terbentuk  ketika angin mendorong sejumlah awan kecil ke wilayah awan itu bergabung  hingga kemudian terjadi hujan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tentang fenomena pembentukan awan dan hujan itu, Alquran pun  menjelaskannya secara akurat. Simaklah Alquran surat Annur ayat 43.  &#8221;<em>Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan  antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih.  Maka, kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah  (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari  (gumpalan-gumpalan awan, seperti) gunung-gunung. Maka, ditimpakan-Nya  (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan  dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu  hampir-hampir menghilangkan penglihatan<\/em>.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Harun Yahya, manusia baru mengatahi tahapan pembentukan hujan  setelah radar cuaca ditemukan. Namun, Alquran telah menjelaskan secara  detail pada 14 abad silam. Berdasarkan pengamatan radar, papar Harun,  pembentukan hujan terhadi dalam tiga tahap. &#8221;Pertama, pembentukan  angin; kedua, pembentukan awan; ketiga, turunnya hujan,&#8221; papar Harun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jauh sebelum manusia mengetahui itu, Allah SWT dalam surat Ar-Ruum  ayat 48 berfirman, &#8221; <em>Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu  menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang  dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kamu lihat  hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai  hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira<\/em>.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Harun menjelaskan ayat itu sangat sesuai dengan pemantauan radar  cuaca. Tahap pertama pembentukan hujan dijelaskan lewat , &#8221;<em>Allah,  Dialah yang mengirimkan angin<\/em>&#8230;&#8221; Tahap kedua dijelaskan dalam, &#8221;&#8230;l<em>alu  angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit  menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal<\/em>&#8230;&#8221;  Tahap ketiga, &#8221;&#8230; <em>lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya<\/em>.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sungguh Allah SWT Mahakuasa atas segala sesuatu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>ikadi.or.id &#8211; &#8220;Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diatur-Nya menjadi sumber-sumber di bumi kemudian ditumbuhkannya-Nya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu Kami melihatnya <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/fenomena-hujan-dalam-alquran\/\" title=\"Fenomena Hujan dalam AlQuran\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,13,21,1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-955","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-artikel","7":"category-pengetahuan-umum","8":"category-tsaqofah-islamiyah","9":"category-uncategorized"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/955","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=955"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/955\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=955"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=955"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=955"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}