{"id":952,"date":"2010-12-12T05:23:00","date_gmt":"2010-12-11T22:23:00","guid":{"rendered":"http:\/\/insanpermata.com\/?p=952"},"modified":"2010-12-12T05:23:00","modified_gmt":"2010-12-11T22:23:00","slug":"hemat-dalam-ketaatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/hemat-dalam-ketaatan\/","title":{"rendered":"Hemat Dalam Ketaatan"},"content":{"rendered":"<p>Allah berfirman: &#8220;<em>Tidaklah Kami turunkan al Quran supaya kamu sengsara<\/em>\u201d (QS. <strong>Thoha<\/strong> 1)<\/p>\n<p><strong>Prof. Dr. Achmad Satori Ismail<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/www.ikadi.or.id\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=72:hemat-dalam-ketaatan&amp;catid=44:opini&amp;Itemid=71\">ikadi.or.id<\/a> &#8211; Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. bahwa ia berkata:  Rasululah saw bertanya kepadaku : <em>Wahai Abdullah , bukankan aku telah  diberitahu bahwa engkau selalu puasa siang hari, dan qiyamullail malam  harinya? Aku menjawab : Benar Ya Rasulullah. Lalu Beliau bersabda:  jangan kau lakukan itu terus menerus tapi puasalah dan berbukalah,  tahajjudlah dan tidurlah karena sesungguhnya jasadmu punya hak atas  kamu, kedua matamu juga punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, dan  tetanggamu punya hak atasmu. Sesungguhnya cukup bagimu puasa sebulan  tiga hari ( puasa ayyamul biidh) karena setiap kabaikan itu dibalas  sepuluh kali lipat berarti kamu seakan puasa satu tahun.\u201d Maka akupun  minta ditambah berat amalannya seraya berkata; Ya Rasulullah , aku masih  memiliki kekuatan untuk itu. Beliau bersabda: kalau begitu, Puasalah  seperti puasanya Nabi Daud a.s. dan jangan lebih dari itu.<\/em> ( HR.  Bukhori)<\/p>\n<p>Itulah sebuah contoh dialog indah antara Rasulullah  saw dengan seorang sahabat yang ingin menghabiskan kekuatan dan waktunya  untuk puasa. Dalam petikan dialog ini kita bisa menarik beberapa point  penting:<br \/>\n1. Betapa hebatnya semangat para sahabat terdahulu untuk  menghabiskan waktunya dalam beribadah kepada Allah SWT. Sungguh berbeda  dengan zaman sekarang yang sebagian umatnya sudah terseret ke dalam  dunia materialistis dan individualistis.<br \/>\n2. Rasulullah saw melarang  berlebihan dalam ibadah mahdloh sebab akan berakibat mengesampingkan  atau minimal akan menggeser kewajiban lainnya. bagaimana dengan  berlebihan dalam bidang materi yang menguasai seluruh jiwa manusia.<br \/>\n3.\tKeharusan untuk melakukan keseimbangan dalam seluruh aspek kehidupan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demikianlah Allah menghendaki umat islam hidup bahagia dunia dan  akhirat. Untuk itu Alquran dan assunnah meletakkan berbagai aturan untuk  mencapai tujuan itu. Keseimbangan dalam semua aspek kehidupan merupakan  asas kebahagiaan utuh di dunia karena manusia telah diciptakan dalam  keseimbangan. Ia terdiri dari ruh dan jasad, sesuai dengan ukuran yang  ditetapkan Allah. Allah berfirman: \u201c<em>Sesungguhnya Kami menciptakan segala  sesuatu menurut ukuran<\/em>. &#8220;(QS. <strong>Al Qomar<\/strong> 49 )<br \/>\nLain dari pada itu , kita  sebagai muslim selalu berada di antara dua kutub yang saling tarik  menarik yaitu individu dan social, dunia dan akhirat, material dan  spiritual dst. Semuanya harus kita padukan secara seimbang.<\/p>\n<p>Ketika seseorang menanyakan sesuatu tentang takdir melalui surat yang  dilayangkan kepada Umar bin abdil aziz beliau membalasnya:\u2026. <em>Aku  menasihatimu agar senantiasa bertakwa kepada Allah dan tidak berlebihan  dalam melaksanakan perintahNya dan selalu mengikuti sunnah NabiNya SAW  dan meninggalkan hal-hal bidah yang dimunculkan orang-orang terkemudian  setelah jelas berlakunya aturan-aturan hukumNya<\/em>\u2026( Kitab Shohih Muslim)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berlebihan dalam ketaatan akan menyulitkan diri sendiri. Bagaimana  kita bisa melaksanakan semua perintah Allah kalau kita tenggelam terus  dalam ibadah mahdloh? Memang kita diciptakan hanyalah untuk beribadah,  tetapi tidak boleh tenggelam dalam satu bentuk ibadah mahdloh tanpa  memperhatikan ibadah ghair mahdloh. Ibadah bukan hanya sholat dan puasa  saja. Tapi di sana masih ada sangat banyak lapangan ibadah yang harus  kita lakukan sesuai dengan kemampuan dan asas keseimbangan. Bukankah  bekerja dengan baik untuk mencari nafkah itu ibadah? Bukankah menikah  dengan tujuan agar tidak terjerumus dalam perzinahan adalah ibadah?  Bukankah menolong orang lain juga ibadah? Dst.<br \/>\nDi sinilah rahasianya  mengapa Rasulullah marah ketika diceritakan kepadanya tentang seorang  wanita yang amat banyak sholatnya tetapi mengesampingkan ibadah sosial,  seraya berkata: \u201c<em>Hindarilah berlebihan seperti itu. Kamu harus melakukan  sesuatu sesuai dengan kemampuanmu. Demi Allah, sesungguhnya Allah SWT  tidak akan bosan sampai kamu benar-benar bosan\u201d Sesungguhnya ketaatan  beragama yang disenangi olehNya adalah ibadah yang dilakukan secara  rutin<\/em>\u201d ( Muttafaq a\u2019alaih)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diriwayatkan dari Abdullah bin amr r.a., ia berkata: Diceritakanlah  kepada Rasulullah saw tentang orang-orang yang sangat rajin beribadah  sehingga berlebihan, maka beliau bersabda : &#8220;<em>Itulah kobaran semangat  islam dan puncaknya. Setiap kobaran semangat ada puncaknya. Setiap  puncak memiliki kekenduran. Maka barangsiapa yang kekendurannya menuju  kepada kesederhanaan dan kesunahan maka sungguh lestari dia, tapi bila  kekendurannya menuju kepada maksiat maka celakalah<\/em>.&#8221; ( Sunan Ibni Majah)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kasederhanaan dan hemat dalam ketaatan adalah ajaran Islam yang  sesungguhnya. Istilah hemat dalam keatatan ini bukan berarti kita  bermalas-malasan dalam ibadah, tapi kita harus menerjuni dunia ibadah  seperti akan mati besok dan harus rajin menerjuni urusan dunia seperti  akan selamanya hidup di dunia.<br \/>\nBila kita ingin maju memimpin dunia,  kita harus seimbang dalam semua aspek kehidupan kita. Dan kita harus  paling berkualitas dalam semua urusan tapi syaratnya tetap harus  memperhatikan aspek keseimbangan. Ketika beribadah kita khusyuk dan  berkualitas dan ketika kita bekerja, mengajar, berdakwah, bertani,  berdagang, memimpin,..dst harus dilakukan semuanya dengan kualitas  tinggi. Apalagi di era globalosasi sekarang ini, kita tidak boleh  tenggelam terus dalam ibadah mahdloh tanpa mengarungi suatu perjuangan  di bidang keduniaan , pendidikan, pertanian, perdagangan dst.<br \/>\nAgama  adalah aturan untuk manusia agar bahagia. Maka agamapun tidak  menyulitkan manusia dan tidak memberikan beban di atas kemampunnya,  sebagaimana difirmankan Allah \u201c <em>Sesungguhnya Allah menginginkan  kemudahan untuk kamu dan tidak menginginkan kesulitan<\/em>\u201d (QS. <strong>Al Baqarah<\/strong> 185)  Rasulullah pun menegaskan hal ini dengan sabdanya: \u201c Agama adalah mudah  maka tidak adalah seorang yang mempersulit agama kecuali ia akan kalah.  Sebab itu sedang-sedanglah kamu dan berkdekat-dekatlah dan buka  harapanmu dan pergunakan waktu pagi dan sore dan sedikit waktu malam.  Dalam riwayat lain : sedang-sedanglah kamu dan hampirkan dirimu dan  gunakan waktu pagi dan sore dan sedikit waktu malam .  Bersedang-sedanglah kamu agar bisa sampai.( HR. al Bukhori) <em>wallahu a&#8217;lamu<\/em> .  ASRI<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>Allah berfirman: &#8220;Tidaklah Kami turunkan al Quran supaya kamu sengsara\u201d (QS. Thoha 1) Prof. Dr. Achmad Satori Ismail ikadi.or.id &#8211; Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. bahwa ia berkata: Rasululah saw bertanya kepadaku <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/hemat-dalam-ketaatan\/\" title=\"Hemat Dalam Ketaatan\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,16,21,1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-952","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-artikel","7":"category-renungan","8":"category-tsaqofah-islamiyah","9":"category-uncategorized"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/952","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=952"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/952\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=952"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=952"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=952"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}