{"id":828,"date":"2010-11-25T05:10:27","date_gmt":"2010-11-24T22:10:27","guid":{"rendered":"http:\/\/insanpermata.com\/?p=828"},"modified":"2010-11-25T05:10:27","modified_gmt":"2010-11-24T22:10:27","slug":"kisah-guru-perempuan-mendidik-para-narapidana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/kisah-guru-perempuan-mendidik-para-narapidana\/","title":{"rendered":"Kisah Guru Perempuan Mendidik Para Narapidana"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2010\/11\/Foto-guru.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-829\" title=\"Foto guru\" src=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2010\/11\/Foto-guru-300x150.jpg\" alt=\"\" width=\"144\" height=\"72\" \/><\/a><a href=\"http:\/\/news.okezone.com\/read\/2010\/11\/25\/337\/396770\/kisah-guru-perempuan-mendidik-para-narapidana\">okezone.com<\/a> &#8211; <span style=\"color: #000000;\">Anda pernah membaca novel atau menonton  film berjudul Laskar Pelangi? Jika sudah pasti tidak akan merasa asing  lagi dengan nama Ibu Muslimah. Di situ dijabarkan beliau adalah sosok  guru madrasah yang sangat sabar memberikan pelajaran membaca, berhitung,  mengaji dan bermain bagi Ikal dan kawan-kawannya.<\/p>\n<p>Seorang Andrea  Hirata sangat terinspirasi dengan sosok lembut ibu guru yang bernama  lengkap NA Muslimah Hafsari Hamid binti KA Abdul Hamid hingga lahirlah  kisah beliau dan perjuangan kawan-kawannya selama menuntut ilmu di SD  Muhammadiyah Belitong itu. Suatu karya yang sangat fenomenal dimana  filmnya berhasil menyedot 4 juta pengunjung.<\/p>\n<p>Tentu masih banyak  lagi pahlawan tanpa tanda jasa yang senantiasa menjadi pelita bagi anak  sekolah di pelosok negeri ini. Di Makassar, tepatnya di Jalan Sultan  Alaudin ada seorang guru yang tidak hanya sabar dan lembut seperti Ibu  Muslimah namun juga seorang yang pemberani dan patut disegani karena  mengajar di lembaga pendidikan yang tak biasa.<\/p>\n<p>Lembaga  Pemasyarakat (LAPAS) kelas I Makassar, Jalan Sultan Alauddin, Sulawesi  Selatan. Inilah tempat di mana Ibu Hj Sulfiah Sultan mengajar. Di  sekolah keaksaraan fungsional milik Balai Pengembangan Pendidikan Non  Formal dan Informal (BP PNFI) Regional V Kementerian Pendidikan Nasional  (Kemendiknas).<\/p>\n<p>Penghuninya bukan anak kecil nan manis pintar  layaknya sekolah Laskar Pelangi, namun diisi oleh pria tua muda berambut  pitak ataupun gondrong, bertato, bercodet dan berkulit hitam legam yang  di \u201csekolahkan\u201d selama belasan dan puluhan tahun karena membunuh  ataupun merampok.<\/p>\n<p>Ngeri, itulah yang dirasakan Sulfiah saat  pertama kali mengajar 25 narapidana membaca dan menghitung. Lima bulan  lalu, saat pertama kali dia harus pergi mengajar di lapas itu, tak  henti-hentinya ia memanjatkan doa ketika memakai jilbab di depan kaca.<\/p>\n<p>\u201cSaya  berdoa agar diberikan keselamatan, tidak hanya saat perjalanan namun  juga saat mengajar karena di depan saya adalah seorang pembunuh,  penganiaya ataupun perampok,\u201d kenangnya.<\/p>\n<p>Namun mengajar adalah  amanah. Dengan bekal itulah wanita perkasa berusia 52 tahun ini pun naik  motor dari rumahnya di Jalan Pintu Kemerdekaan kilometer 17 selama satu  jam ke lapas yang dihuni juga oleh terpidana kasus Bom Bali II, Cholily  itu.<\/p>\n<p>Rasa ngeri yang dirasakannya hanya bertahan dua hari,  selebihnya tak ada beban bahkan dia merasa terpacu untuk mengajar di  sekolah tersebut agar anak didiknya tidak menyandang dua status yang  sering dicemooh masyarakat, narapidana dan penyandang buta huruf.<\/p>\n<p>Sulfiah  menuturkan, butuh kesabaran mengajari anak didiknya itu. \u201cKarakter  mereka sangat keras. Saya harus bersikap lembut agar mereka mau menerima  saya mengajari mereka,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Perhatian lebih juga harus  diberikan ke narapidana ini karena mereka juga tersisihkan oleh keluarga  di rumah. \u201cIstilahnya saya punya anak selain yang di rumah yang harus  saya rangkul,\u201d imbuh Sulfiah seraya menjelaskan bahwa jam mengajarnya  mulai dari pukul 08.00-10.00 WITA.<\/p>\n<p>Mendidik para terpidana itu  juga butuh kreativitas. Metode pengajaran konvensional tidak dapat  diterapkan kepada mereka karena akan membuat para narapidana itu bosan.  Oleh sebab itu, selain mengajarkan baca dan hitung, Sulfiah juga  mengajarkan pra karya seperti membuat figura, mainan anak dari kayu  ataupun bernyanyi untuk memotivasi mereka belajar.<\/p>\n<p>Kepala Seksi  Program BP PNFI Regional V Kemendiknas Hasan Mamu menjelaskan, dari 400  narapidana ada 104 napi yang buta huruf. Program pendidikan kesetaraan  di Lapas kelas I Makassar ini terdiri dari pendidikan keaksaraan  fungsional, pendidikan keterampilan, Paket B dan C.<\/p>\n<p>Mulai Juli  kemarin sekolah khusus ini dibuka. \u201cIni termasuk program Education For  All (EFA) yang dideklarasikan oleh 185 negara. Pendidikan ialah hak  semua warga negara termasuk yang ada di penjara ini. Kesempatan harus  diberikan agar kehidupan mereka lebih baik saat mereka bebas nanti,\u201d  ujarnya.<\/p>\n<p>Sulfiah mengajarkan siswa luar biasa yang tak semua guru  mau mengajari manusia buangan itu. Ironisnya, Sulfiah hanya dibayar  Rp250.000 per bulan. Namun, Sulfiah mengaku rela dibayar tanpa ada  tambahan sepeserpun dari pemerintah. Baginya pendidikan keaksaraan yang  diselingi dengan moral dan akhlak cukup membuat ia kaya dalam hidup.  Baginya dihormati oleh para narapidana ini ialah berkah. Digaji sedikit  ialah anugerah karena baginya mengajar adalah amanah.<\/p>\n<p>Dan  keihlasannya itu dibuktikan dengan senyuman tulus para narapidana, salah  satunya Dewa (29), yang dipenjara 15 tahun karena membunuh seorang  tentara. Dia mengaku senang diajari oleh gurunya itu.<\/p>\n<p>Para  narapidana inipun tak segan untuk mencium tangan sang guru ataupun  membawakan tas hingga ke gerbang penjara ketika waktu belajar telah  usai. Semoga di Hari Guru yang jatuh hari ini, penghargaan kepada pelita  ilmu ini semakin diperhatikan.(Neneng Zubaidah\/Koran SI\/ful)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>okezone.com &#8211; Anda pernah membaca novel atau menonton film berjudul Laskar Pelangi? Jika sudah pasti tidak akan merasa asing lagi dengan nama Ibu Muslimah. Di situ dijabarkan beliau adalah sosok guru madrasah yang sangat sabar <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/kisah-guru-perempuan-mendidik-para-narapidana\/\" title=\"Kisah Guru Perempuan Mendidik Para Narapidana\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,1],"tags":[70],"class_list":{"0":"post-828","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-artikel","7":"category-uncategorized","8":"tag-guru"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/828","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=828"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/828\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=828"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=828"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=828"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}