{"id":676,"date":"2010-11-10T05:31:35","date_gmt":"2010-11-09T22:31:35","guid":{"rendered":"http:\/\/insanpermata.com\/?p=676"},"modified":"2010-11-10T05:31:35","modified_gmt":"2010-11-09T22:31:35","slug":"rahasia-di-balik-musibah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/rahasia-di-balik-musibah\/","title":{"rendered":"Rahasia di Balik Musibah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2010\/11\/tsunami3.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-full wp-image-678\" title=\"tsunami3\" src=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2010\/11\/tsunami3.jpg\" alt=\"\" width=\"274\" height=\"184\" \/><\/a><a href=\"http:\/\/http:\/\/www.dakwatuna.com\/2010\/rahasia-di-balik-musibah\/\">dakwatuna.com<\/a> \u2013 Tidaklah Allah swt. menciptakan peristiwa, atau kejadian sesuatu yang sia-sia. Manusia dianjurkan untuk merenung dan mengambil pelajaran dari berbagai macam peristiwa yang terjadi. Islam sangat mendorong umatnya untuk menggunakan potensi yang Allah swt. berikan kepadanya; penglihatan, pendengaran, hati, panca indra yang lain agar difungsikan untuk merenung hikmah dibalik peristiwa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Katakanlah: \u201cBerjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.\u201d QS. Al-An\u2019am:11<br \/>\n<\/em><br \/>\nAyat yang senada seperti di atas sangatlah banyak dalam Al-Qur\u2019an. Dengan redaksi yang beragam, tapi kesimpulannya adalah satu, menggunakan pemberian Allah untuk merenung dan mengambil pelajaran yang sangat berharga dari berbagai peristiwa bencana yang terjadi silih berganti ini. Ada beberapa rahasia dibalik musibah dan bencana yang selama ini terjadi bahwa:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pertama, Allah Penentu Kehidupan, Dzat yang Maha Perkasa.<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahwa dibalik kehidupan ini ada yang punya, ada yang mengatur. Dialah Allah Rabbul Izzah, Tuhan yang memiliki kemuliaan dan keperkasaan. Di Genggaman-Nya lah semua kehidupan ini dikendalikan. Allah hanya butuh berkata \u201cKun Fayakun, terjadi! maka terjadilah\u201d. Allah memiliki nama-nama, di antaranya; Al-Khaliq \u2013Pencipta-, Al-Muhaimin \u2013Yang Mengatur-, Al-Muhyi \u2013Yang Menghidupkan-, Al-Mumit \u2013Yang Mematikan-, Adh-Dhaar \u2013Yang Memberi Madharat-, An-Nafi\u2019 \u2013Yang memberi Manfaat-, dst.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Manusia tidak bisa mengatur-atur. Manusia tidak mungkin bilang \u201chai merapi, berhenti meletus\u2026 dst\u201d, sebagaimana yang kita dengar dari pusat ahli vulkanologi dan mitigasi bencana. Allah swt. punya kehendak-Nya sendiri, bahkan Kehendak itu sudah ditulis semenjak zaman azali. Allah swt. berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cTiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.\u201d (QS. Al-Hadid\/57:22)<br \/>\n<\/em><br \/>\nPerhatikan potongan akhir ayat akhir di atas <em>\u201cSesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Al-Hasan ketika menjelang mautnya berkata: <em>\u201cSesungguhnya Allah Azza wa Jalla mentaqdirkan ajal, dan mentaqdirkan musibah, mentaqdirkan kesehatan, mentaqdirkan ketaatan, mentaqdirkan kemaksiatan. Maka barangsiapa yang mengingkari taqdir, ia berarti mengingkari Al-Qur\u2019an. Barangsiapa mengingkari Al-Qur\u2019an, sungguh ia berarti mengingkari kebenaran.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kedua, Musibah Akibat Perbuatan Manusia<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Musibah yang menimpa umat manusia adalah karena perbuatan mereka sendiri yang melanggar peraturan Allah, merusak ekosistem kehidupan, banyak melakukan kemaksiatan dan dosa, tidak menjalankan perintah dan syariat-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cDan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah. \u201d <\/em>(QS. Syuro\/42:30-31)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bukan karena ada unsur mistik, karena ini, karena itu, seperti karena bulan tertentu, karena hari tertentu dll. yang justeru merusak aqidah umat. Bencana karena ulah manusia, dan itu atas kuasa Allah swt.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Ketiga, Pahala Tergantung Besarnya Musibah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah saw. bersabda: <em>\u201cSesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Allah mengujinya. Maka barangsiapa ridha dengan ujian Allah, baginya ridha \u2013dari Allah-, sebaliknya, siapa yang murka, maka baginya murka \u2013dari Allah-.\u201d <\/em> (HR. At-Tirmidzi)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, tidak perlu putus asa, jangan sampai menggadaikan aqidah dengan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Keempat, Musibah Dalam Rangka Tamhis (Seleksi)<br \/>\n<\/strong><br \/>\nKehidupan ini bukan statis, tapi berputar. Ada yang baik ada yang buruk, ada yang berhasil ada yang juga gagal. Itu semua adalah dalam rangka untuk menseleksi secara alamiah kualitas manusia, dan sebagai batu ujian; apakah ia lulus dengan predikat baik, lulus dengan catatan, atau malah gagal dalam menjalani usjian tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cDan Sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik.\u201d<\/em> (QS. Al-Ankabut\/29:11)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika menjelaskan ayat ini, Mujahid berkomentar: <em>\u201cManusia itu ada yang iman hanya di lisannya saja, maka ketika dia mendapatkan ujian, berupa kehilangan harta atau jiwa, sebagian manusia dilanda fitnah \u2013goncang yang hebat-\u201c<\/em> (Tafsir Al-Baghawi, Juz 6, Bab 11, Hal. 235)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kelima, Istirja\u2019 atau Mengembalikan Semua kepada Allah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertama kali menghadapi musibah, hendaknya iman yang berbicara, bukan hawa nafsu yang protes. Karena seseorang ditentukan oleh sikap pertama kalinya terhadap kejadian. Rasulullah saw. mengingatkan <em>\u201cSesungguhnya sabar itu ketika merespon kejadian pertam kali.\u201d<\/em> Selanjutnya berdoa kepada Allah swt. agar diberikan pahala atas musibah itu dan memperoleh ganti yang jauh lebih baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rasulullah saw. bersabda: <em>\u201cJika salah satu di antara kalian mendapatkan musibah, maka ucapkanlah; \u201cSesungguhnya kami milik Allah dan kami kembali kepada-Nya, \u201cAllahumma \u2018indaka ahtasibu mushibatii, fa ajirnii \u2018alaihaa waabdilnii bihaa khairan minhaa. Ya Allah kepada-Mu saya ikhlaskan musibah yang menimpaku, maka berilah pahala kepadaku atas musibah ini, dan berilah saya ganti yang jauh lebih baik darinya.\u201d <\/em>(Imam Muslim)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Keenam, Musibah Menghapus Kesalahan dan Mengangkat Derajat<br \/>\n<\/strong><br \/>\nInilah indahnya kehidupan bagi orang yang beriman. Ujian, bencana dan bala akan menggugurkan dosa-dosa dan sekaligus mengangkat derajatnya. Tidak sia-sia, tegantung ia meresponnya. Dari Aisyah ra. ia mendengar Rasulullah saw. bersabda:<br \/>\n<em>\u201cTiada seorang mukmin yang tertusuk suatu duri atau bahkan yang jauh lebih sakit, kecuali Allah pasti akan menghapus kesalahan dan mengangkat derajat.\u201d<\/em> (Imam Muslim)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rasulullah saw. bersabda: <em>\u201cSungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur. Jika sedangkan memperoleh keburukan, ia bersabar, kedua-duanya baik baginya, itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin.\u201d<\/em> (Sahih Ibnu Hibban)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Ketujuh, Musibah sebagai Peringatan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kejadian bencana bisa dimaknai 3 hal; Pertama sebagai siksa, jika itu menimpa orang-orang yang tidak beriman. Kedua sebagai peringatan, jika menimpa orang-orang yang beriman tapi melakukan banyak dosa. Dan ketiga, sebagai sarana mengangkat derajat, yaitu bagi orang yang beriman, hamba-hamba Allah swt.<br \/>\nAllah swt. berfirman:<br \/>\n46. Katakanlah: <em>\u201cTerangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah Tuhan selain Allah yang Kuasa mengembalikannya kepadamu?\u201d perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga)<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">47. Katakanlah: <em>\u201cTerangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong, atau terang-terangan, Maka Adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang yang zalim?\u201d<br \/>\n<\/em><br \/>\n48. <em>dan tidaklah Kami mengutus Para Rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan Mengadakan perbaikan, Maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.<br \/>\n<\/em><br \/>\n49. <em>dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik.\u201d<\/em> (QS. Al-An\u2019am: 46-49)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Ketujuh, Musibah Menyempurnakan Iman<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rasulullah saw. bersabda: <em>\u201cTiada dianggap mukmin yang sempurna imannya orang yang tidak menganggap suatu bala\u2019 sebagai sebuah kenikmatan, dan suatu kemudahan sebagai musibah. Para sahabat bertanya: Bagaimana itu ya Rasulullah? Rasul menjawab; \u201cKarena tiak menyertai balak itu kecuali adanya kemudahan. Demikian juga dengan kemudian itu akan disertai dengan musibah.\u201d<\/em> (Ath-Tabrani).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Allah swt. berfirman:<br \/>\n5.<em>Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,<br \/>\n<\/em><br \/>\n6. <em>Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.<br \/>\n<\/em><br \/>\n7. <em>Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">8. <em>dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.<\/em>\u201d (QS. Al-Insyirah:5-8).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dibalik bencana ada hikmah, ada pelajaran, ada kebaikan. Mari kita renungkan, kita temukan rahasia di balik bencana yang selama ini terjadi. Allahu a\u2019lam <strong>(Oleh: <em>Ulis Tofa, Lc<\/em>)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>dakwatuna.com \u2013 Tidaklah Allah swt. menciptakan peristiwa, atau kejadian sesuatu yang sia-sia. Manusia dianjurkan untuk merenung dan mengambil pelajaran dari berbagai macam peristiwa yang terjadi. Islam sangat mendorong umatnya untuk menggunakan potensi yang Allah swt. <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/rahasia-di-balik-musibah\/\" title=\"Rahasia di Balik Musibah\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16,1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-676","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-renungan","7":"category-uncategorized"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/676","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=676"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/676\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=676"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=676"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=676"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}