{"id":2020,"date":"2013-05-25T08:42:04","date_gmt":"2013-05-25T01:42:04","guid":{"rendered":"http:\/\/insanpermata.com\/?p=2020"},"modified":"2013-05-25T08:42:04","modified_gmt":"2013-05-25T01:42:04","slug":"islam-melekat-dalam-diri-asma-binti-abu-bakar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/islam-melekat-dalam-diri-asma-binti-abu-bakar\/","title":{"rendered":"Islam Melekat Dalam Diri Asma Binti Abu Bakar"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/rumahkeluarga-indonesia.com\/islam-melekat-dalam-diri-asma-binti-abu-bakar-1997\/\"><a href=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/padang-rumput-300x200.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-thumbnail wp-image-2021 alignleft\" alt=\"padang-rumput-300x200\" src=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/padang-rumput-300x200-150x150.jpg\" width=\"150\" height=\"150\" \/><\/a>rumahkeluarga-indonesia.com<\/a> &#8211; Ibunya bernama Qutayrah binti Abu Uzza dari Banu Amir bin lu\u2019ai. Dia adalah saudara kandung Abdullah bin Abu Bakar ra. Asma\u2019 telah dilahirkan 27 tahun sebelum Hijrah. Usianya lanjut, sehingga dia wafat pada tahun ke-73 sesudah Hijrah. Berarti usianya genap satu abad.<\/p>\n<p>Dari masa jahiliyyah hingga ke masa pemerintahan Bani Umayyah. Semenjak permulaan Islam, Asma\u2019 telah banyak membantu perjuangan Nabi SAW beserta ayahnya. Ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar ra. dikejar-kejar oleh kafir-kafir Quraisy, keduanya bersembunyi di gua Tsur, maka setiap petangnya, Asma\u2019 binti Abu Bakar seorang diri telah datang ke tempat persembunyian itu untuk membawa makanan dan minuman untuk Nabi SAW serta ayahnya. Pada malam ketiga, Asma\u2019juga telah datang ke tempat Persembunyian Rasulullah SAW dengan rnembawa Seorang penunjuk jalan, yaitu Abdullah bin Uraiqith. Kemudian Nabi SAW bersama sahabatnya meninggalkan gua itu untuk melanjutkan perjalanan. Sedangkan Asma\u2019 membawakan bungkusan makanan bagi mereka. Dan karena dia tidak menemukan tali untuk mengikat makanan itu pada unta, maka ia membuka tali ikat pinggangnya, lalu disobeknya menjadi dua utas tali. Yang satu dijadikan ikat makanan kepada unta, dan yang lain diikatkan pada pinggangnya. Dan sejak itulah dia telah dikenal dengan panggilan \u2018Wanita yang mempunyai dua ikat pinggang\u2019.<\/p>\n<p><!--more-->Setelah berkhidmat dan membantu perjuangan Nabi SAW Ketika berhijrah ke Madinah, Asma\u2019 segera kembali ke rumahnya. Namun, belum sempat Asma\u2019 tiba di rumahnya, beberapa orang kaum Quraisy dengan diketuai oleh Abu jahal, sudah berada di belakangnya. Asma\u2019 ditanya dengan berbagai pertanyaan. Tetapi dia tetap menjawab, \u2018Saya tidak tahu.\u2019 Hal itu telah membuat Abu Jahal marah, lalu dia menampar Asma\u2019 dengan tangannya yang kasar itu. lantaran tamparan itu terialu kuat, sehingga anting-anting Asma\u2019 tercabut dari telinganya. Rasa sakit dari tamparan Abu jahal itu terus terasa oleh Asma\u2019 sampai beberapa hari, bahkan dia tidak dapat melupakannya seumur hayatnya.<\/p>\n<p>Asma\u2019 telah memeluk Islam bersama-sama orang yang pertama memeluk Islam. Dia adalah orang yang kedelapan belas dalam urutan orang-orang yang mula-mula memeluk Islam. Usia Asma\u2019 delapan tahun lebih tua dari \u2018Aisyah ra. Asma\u2019 telah menikah dengan Zubair bin Awwam ra. Dan darinya mempunyai anak: Abdullah, Urwah, Mundzir, Asim, Muhajir, Khadijah, Ummul Hasan dan \u2018Aisyah. Suaminya, Zubair telah syahid dalam pertempuran jamal. Asma\u2019 binti Abu Bakar berkata, \u2018Ketika aku menikahi Zubair, dia belum mempunyai rumah, juga tidak mempunyai budak. Dia tidak mempunyai apa-apa di muka bumi ini selain kudanya. Akulah yang biasanya menggembalakan kudanya, memberinya makan, dan merawatnya. Selain itu aku juga yang menggiling bibit kurma, menggembalakan unta, memberinya minum, menambal ember, dan membuat roti. Sebenarnya aku tidak begitu pandai membuat roti, maka tetanggaku orang Anshar yang biasanya membuatkan roti untukku. Mereka adalah wanita-wanita yang ramah.\u2019<\/p>\n<p>Asma\u2019 sering menjujung bibit kurma di kepalanya dari hasil tanah milik Zubair yang telah dihadiahkan oleh Rasulullah SAW kepadanya. Tanah itu jauhnya sekitar 2 mil. Suatu hari, Asma\u2019 sedang membawa bji-biji kurma itu di atas kepalanya, di tengah perjalanan ia bertemu dengan Rasulullah SAW dan sekelompok sahabat ra. Lalu Beliau SAW memanggil Asma\u2019, \u2018Ayo! lkutiah!\u2019 mengajaknya agar ikut di belakang beliau. Asma\u2019 merasa malu sekati berjalan bersama para laki-laki. Dan ia teringat akan Zubair dan kecemburuannya. Karena Zubair termasuk orang yang paling pencemburu. Dan ketika Rasulullah SAW melihat bahwa Asma\u2019 malu, lalu beliau pergi. Setelah itu, Asma\u2019 menemui Zubair dan menceritakan kejadian tadi, \u2018Tadi Rasulullah SAW bertemu denganku ketika aku sedang menjunjung biji kurma di kepalaku. Ada sekelompok sahabat bersama beliau. Beliau merundukkan untanya supaya aku bisa ikut menunggang unta itu bersama beliau, tetapi aku sangat malu dan aku tahu rasa cemburumu.\u2019 Zubair berkata, \u2018Demi Allah, memikirkanmu menjunjung biji kurma adalah lebih berat bagiku daripada kamu berkendaraan bersama beliau.\u2019<\/p>\n<p>Pada suatu ketika Asma\u2019 merasa Zubair berlaku keras terhadapnya. Lalu Asma\u2019 menemui ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan mengeluhkan tentangnya. Ayahnya berkata, \u2018Putriku, Sabarlah. jika seorang wanita mempunyai suami yang shaleh dan dia meninggal, lalu wanita itu tidak menikah setelah itu, mereka akan dipersatukan kembali di surga.\u2019<\/p>\n<p>Asma\u2019 binti Abu Bakar pernah datang menemui Rasulullah SAW dan berkata, \u2018Ya Nabi Allah! tidak ada apa-apa di rumahku kecuali apa yang dibawakan Zubair untukku. Salahkah bila aku menginfakkan sebagian dari yang dibawakannya itu?\u2019 Beliau menjawab, infakkanlah yang kamu bisa. Jangan menimbun harta, atau Allah akan menahannya darimu.\u2019 Kedermawanannya tidak diragukan lagi. Prinsip hidupnya adalah menyedekahkan apa yang ada, tanpa menyimpannya. la sangat menyakini, bahwa dengan memperbanyak sedekah akan menambah rezeki dan menyelesaikan masalah.<\/p>\n<p>Diriwayatkan bahwa Asma\u2019 binti Abu Bakar jika merasa tidak enak badan, maka dia akan membebaskan semua budak miliknya. jika ia merasa sakit kepala, maka ia akan meletakkan tangannya di kepalanya, seraya berkata, \u2018Tubuhku, dan yang diampuni Allah sudah cukup!\u2019 Asma\u2019 pun sering menasehati putra-putri dan ahli keluarganya, \u2018Berinfaklah dan bersedekahlah dan jangan menanti agar uangmu berlebih. jika engkau mengharapkan uangmu berlebih, engkau tidak akan mendapatkannya. lika engkau bersedekah, enpkau tidak akan menderita kerugian.\u2019<\/p>\n<p>Demikian Islam melekat pada dirinya, sehingga kepada ibu kandungnya pun ia sangat berhati-hati, mengingat ibu kandungnya sendiri belum memeluk Islam. Diriwayatkan bahwa Qutayrah binti Abdul Uzza \u2013 yaitu istri Abu Bakar yang telah diceraikan pada zaman jahiliyah karena masih kufur \u2013 mengunjungi putrinya Asma\u2019 binti Abu Bakar ra.. ia membawa kurma, rnentega cair dan daun mimosa. Tetapi Asma\u2019 menolak tidak mau menerima pemberiannya itu, bahkan Asma\u2019 telah melarang ibunya itu memasuki rumahnya. Kemudian Asma\u2019 menemui Aisyah ra., \u201cTanyakanlah kepada Rasulullah SAW.\u2019 Beliau menjawab, \u201cSebaiknya kamu izinkan ibumu masuk dan menerima pemberiannya.\u201d Kemudian Allah menurunkan wahyu-Nya,<\/p>\n<p>\u2018Allah tidak melarangmu untuk berbuat baik, dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil Sesungguhnya Allah hanya melarangmu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama, dan mengusirmu dari negerimu, dan membantu orang lain dari mengusirmu. Dan barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.\u2019 (Al-Mumtahanah: 8-9).<\/p>\n<p>Ketika usianya bertambah tua, Allah telah memberinya ujian, yaitu kedua belah matanya menjadi buta. Dan kezuhudan dan kecintaannya kepada akherat, telah banyak menjauhkan dirinya dari tipu daya duniawi. Pernah pada suatu ketika, putranya yaitu Mundzir bin Zubair telah datang dari lrak. Dan ia mengirimi Asma\u2019 binti Abu Bakar ra. setelan baju yang terbuat dari kain halus yang sangat lembut. Ketika baju itu sampai, Asma\u2019 menyentuh kain itu dengan tangannya, lalu ia berkata, \u2018Hussh Kembalikan pakaian ini kepadanya!\u2019 Terlihat Asma\u2019 sangat gusar dengan hadiah itu. Melihat hal ini Mundzir berkata, \u2018Wahai lbu, (baju) ini tidak tembus pandang!\u2019 Asma\u2019 menjawab, \u2018Jika tidak tembus pandang, ia tembus cahaya.\u2019 Kemudian Mundzir memberikan kepada Asma\u2019 sebuah pakaian biasa dan Asma\u2019 menerimanya. Asma\u2019 berkata, \u2018Aku akan memakai pakaian seperti ini.\u2019<\/p>\n<p>Pada suatu ketika, pada masa pemerintahan Banu Umayyah, ketika Asma\u2019 telah berusia 100 tahun dan matanya telah menjadi buta, datanglah Abdullah bin Zubair menemui ibunya Asma\u2019. Abdullah berkata, \u2018Wahai ibuku! Orang-orang telah mengecewakanku. Aku tidak mempunyai pendukung, kecuali beberapa orang saja.\u2019 Menanggapi kesedihan anaknya ini, Asma\u2019 memberikan nasehat dan dorongan untuk membangkitkan lagi semangat anaknya, ia berkata,<\/p>\n<p>\u2018Wahai anakku, engkau tentu lebih tahu tentang dirimu sendiri. jika engkau yakin, bahwa engkau di atas kebenaran, dan kepada kebenaran engkau menyeru orang, maka teruskaniah! Sahabat-sahabatmu juga telah terbunuh di atas kebenaran ini. jangan engkau jadikan batang lehermu dipermainkan oleh anak-anak bani Umayyah.<\/p>\n<p>Tetapi, jika engkau hanya menginginkan dunia semata, maka seburuk-buruk hamba adalah engkau! Engkau telah membinasakan dirimu sendiri, dan engkau telah membinasakan orang-orang yang telah terbunuh bersama-samamu.<\/p>\n<p>Dan jika engkau berada di atas kebenaran, lalu sahabat-sahabatmu menghadapi kesulitan, apakah engkau akan menjadi lemah?! Demi Allah, ini bukaniah sikap orang-orang yang merdeka dan bukan pula sikap ahli agama. Berapa lama engkau akan tinggal di dunia ini? Mati adalah lebih baik!\u2019<\/p>\n<p>Mendengar nasehat dan dorongan dari Asma\u2019 ini, maka Abdullah bin Zubair merasa tenang dan bersemangat. Lalu ia datang kepada Asma\u2019 dan mencium kepalanya, sambil berkata, \u2018Demi Allah, inilah pendapatku! Akan tetapi aku ingin mengambil pikiran darimu, dan kini engkau telah menambahkan kepadaku keteguhan hati di atas keteguhan yang telah ada padaku. lngatiah, wahai ibuku! Anggaplah aku ini sudah mati dari hari ini, dan aku harap engkau tidak terlalu sedih jika mendengar beritaku kelak, dan serahkaniah masalah ini kepada Allah!\u2019 Kemudian Abdullah memberikan kata selamat tinggal kepada ibunya.<\/p>\n<p>Dalam riwayat lain disebutkan, pernah Abdullah mengadu kepada ibunya tentang kebimbangan hatinya, jika ia mati, tentu mayatnya akan dipotong-potong oleh Al-Hajjaj. Maka Asma\u2019 menentramkannya dengan berkata, \u2018Apakah orang yang sudah mati, akan merasakan siksa atau aniaya, yang dibuat oleh orang yang hidup? Tentu tidak bukan?!\u2019<\/p>\n<p>Ketika Abdullah telah terbunuh di tangan Al-Hajjai. Hajjai telah meletakkan mayatnya tersalib di atas batu. Dan dia bersumpah tidak akan menurunkannya dari atas salib itu, sehingga ibunya sendiri datang memohon kepadanya untuk menurunkan mayat itu. Akan tetapi, Asma\u2019 sangat enggan untuk menundukan kepalanya kepada Al-Hajjaj. Maka rnayat itu terus bergantung di situ, sehingga genap setahun lamanya di atas salib. Dan ketika pada suatu hari Asma\u2019 lewat di situ, ia berkata, \u2018Apakah masih belum sampai masanya bagi sang pahlawan ini untuk menapakkan kakinya di atas bumi!\u2019 Mendengar ucapannya tersebut, orang-orang bani Umayyah telah menganggap kata-kata Asma\u2019 itu sebagai permintaan belas kasihan kepada anaknya, maka mereka pun menurunkannya dari atas salib.<\/p>\n<p>Al-Hajjaj pernah datang kepada Asma\u2019 dengan penuh keangkuhan dan berkata kepadanya, \u2018Apa pendapatmu tentang apa yang telah kulakukan terhadap anakmu?\u2019 Asma\u2019 menjawab dengan tegas, \u2018Aku telah membinasakan dunianya, ketika dia telah berhasil membinasakan akhiratmu.\u2019 Sebelumnya Asma\u2019 telah berdoa, \u2018Ya Allah! janganlah Engkau ambil nyawaku sebelum mataku merasa bahagia dengan mayat anak-ku!\u2019 Dan seminggu setelah mayat Abdullah diturunkan dari salib itu, barulah Asma\u2019 meninggal dunia.<\/p>\n<p>Diriwayatkan bahwa Asma\u2019 binti Abu Bakar ra. juga termasuk golongan wanita-wanita pemberani. Dia selalu menyimpan sebuah belati di bawah bantalnya untuk melawan para pencuri yang merajalela di Madinah. Keberanian Asma\u2019 bukan sekedar itu, bahkan ia berani berkata hak di hadapan seorang penguasa walaupun terasa pahit. la pernah pergi menemui Hajjai dalam keadaan buta. Dia bertanya, \u2018Di mana Hajjaj?\u2019 Mereka menjawab, \u2018la tidak di sini.\u2019 Dia berkata, \u2018Katakaniah kepadanya bahwa aku mendengar Rasulullah SAW berkata, \u2018Ada dua orang laki-laki di Thaif: Yang seorang adalah pendusta dan yang seorang lagi adalah perusak.\u2019 Yang dimaksud perusak adalah Hajjaj itu sendiri. Ketika pesan itu disampaikan kepada Hajjaj, Hajjaj berbalik mengunjungi Asma\u2019 binti Abu Bakar ra. dan berkata kepadanya, \u2018Putramu telah menumpang di rumah ini dan Allah telah membuatnya merasakan siksaan yang pedih yang telah dilakukan atasnya.\u2019 Asma\u2019 menjawab, \u2018Engkau berdusta. Dia berbakti kepada kedua orang tuanya, berpuasa dan shalat, tetapi demi Allah, Rasulullah SAW memberitahu kami bahwa seorang pendusta akan muncul dari Tsaqif, yang satu lebih buruk dari yang pertama, yaitu ia seorang perusak.\u2019 Asma\u2019 binti Abu Bakar ra. mewasiatkan sebelum wafatnya, \u2018Jika aku meninggal dunia, mandikaniah aku dan kafanilah, serta berilah wewangian, tetapi jangan tinggalkan parfum di kain kafanku dan jangan mengikutiku dengan api.\u2019 Asma\u2019 binti Abu Bakar ra. meninggal dunia beberapa malam setelah putranya Abdullah bin Zubair diturunkan dari salib. Abdullah bin Zubair telah terbunuh pada hari Selasa, 17 jumadil-Ula tahun 73 Hijrah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>rumahkeluarga-indonesia.com &#8211; Ibunya bernama Qutayrah binti Abu Uzza dari Banu Amir bin lu\u2019ai. Dia adalah saudara kandung Abdullah bin Abu Bakar ra. Asma\u2019 telah dilahirkan 27 tahun sebelum Hijrah. Usianya lanjut, sehingga dia wafat pada <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/islam-melekat-dalam-diri-asma-binti-abu-bakar\/\" title=\"Islam Melekat Dalam Diri Asma Binti Abu Bakar\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,18,1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-2020","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-artikel","7":"category-sirah-nabawiyah","8":"category-uncategorized"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2020","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2020"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2020\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2020"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2020"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2020"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}