{"id":1113,"date":"2011-01-11T06:06:38","date_gmt":"2011-01-10T23:06:38","guid":{"rendered":"http:\/\/insanpermata.com\/?p=1113"},"modified":"2011-01-11T06:06:38","modified_gmt":"2011-01-10T23:06:38","slug":"nabi-muhammad-saw-sebelum-diangkat-menjadi-nabi-dan-rasul","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/nabi-muhammad-saw-sebelum-diangkat-menjadi-nabi-dan-rasul\/","title":{"rendered":"Nabi Muhammad SAW Sebelum Diangkat Menjadi Nabi dan Rasul"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong><a href=\"http:\/\/www.dakwatuna.com\/2008\/nabi-muhammad-sebelum-dibangkitkan-menjadi-nabi-dan-rasul\/\"><\/a><a href=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2011\/01\/muhammad-orange.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-full wp-image-1114\" title=\"muhammad-orange\" src=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2011\/01\/muhammad-orange.jpg\" alt=\"\" width=\"250\" height=\"180\" \/><\/a>dakwatuna.com &#8211;<\/strong> Siapa mukmin yang  tidak rindu ingin bertemu dengan Rasulullah saw. Jika bertemu, pasti  kita ingin memeluknya. Seperti apa ciri fisik Rasulullah saw.?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Ciri Fisik Rasulullah SAW<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ali bin Abi Thalib r.a. memerinci ciri fisik Rasulullah saw., \u201cNabi  Muhammad saw. tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek.  Berpostur indah di kalangan kaumnya, tidak terlalu gemuk dan tidak pula  terlalu kurus. Perawakannnya bagus sebagai pria yang tampan. Badannya  tidak tambun, wajah tidak bulat kecil, warna kulitnya putih  kemerah-merahan, sepasang matanya hitam, bulu matanya panjang. Tulang  kepalanya dan tulang antara kedua pundaknya besar, bulu badannya halus  memanjang dari pusar sampai dada. Rambutnya sedikit, kedua telapak  tangan dan telapak kakinya tebal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apabila berjalan tidak pernah menancapkan kedua telapak kakinya,  beliau melangkah dengan cepat dan pasti. Apabila menoleh, beliau  menolehkan wajah dan badannya secara bersamaan. Di antara kedua bahunya  terdapat tanda kenabian dan memang beliau adalah penutup para nabi.  Beliau adalah orang yang paling dermawan, paling berlapang dada, paling  jujur ucapannya, paling bertanggung jawab dan paling baik pergaulannya.  Siapa saja yang bergaul dengannya pasti akan menyukainya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more-->Setiap orang yang bertemu Rasulullah saw. pasti akan berkata, \u201cAku  tidak pernah melihat orang yang sepertinya, baik sebelum maupun  sesudahnya.\u201d Begitulah Rasulullah saw. di mata khalayak, sebah beliau  berakhlah sangat mulia seperti yang digambarkan Al-Qur\u2019an, \u201cDan  sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.\u201d (Al-Qalam: 4)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Nasab Rasulullah SAW<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nasabnya adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim  bin Abdi Manaf bin Quraisy bin Kilab. Rasulullah saw. memiliki silsilah  yang berujung pada Adnan anak keturunan Nabi Ismail a.s. Semuanya  dikenal sebagai orang-orang yang mulia dan shalih. Tak heran jika  Rasulullah saw. adalah anak Adam yang paling mulia kehormatan dan paling  utama nasabnya. \u201cAku adalah manusia pilihan dari di antara manusia  pilihan dari di antara manusia pilihan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rasulullah saw. adalah putra semata wayang Abdullah, anak terakhir  Abdul Muthallib. Abdul Muthalllib pernah bernazar, jika dikaruniai 10  anak lelaki, ia akan menyembelih satu orang di antaranya untuk Allah.  Ketika diundi, keluarlah nama Abdullah. Ketika Abdul Muthallib akan  memenuhi nazarnya, kaumnya bermusyawarah dan menawarkan kepadanya agar  menebus putra bungsunya itu dengan 100 ekor unta atau serata dengan diat  10 orang budak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Abdullah wafat saat Rasulullah saw. masih dalam kandungan Aminah,  ibunya. Aminah adalah anak Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab.  Rasulullah saw. lahir di hari Senin, 12 Rabi\u2019ul Awal tahun Gajah. Aminah  mengirimkan bayinya ke Abdul Muthallib. Lantas Abdul Muthallib membawa  bayi yang dinamainya Muhammad itu berthawaf mengelilingi Ka\u2019bah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Tahun Gajah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tahun Gajah, apa maksudnya? Di tahun kelahiran Rasulullah saw. ada  peristiwa besar di Mekkah. Abrahah Al-Habsyi seorang panglima perang  kebangsaan Habasyah (Ethiopia) berkuasa di sebagai Gubernur Yaman di  bawah pemerintahan Raja Najasyi, Raja Habasyah. Ia membangun sebuah  gereja besar yang diberi nama Al-Qallais. Abrahah ingin gerejanya itu  menjadi kiblat seluruh bangsa Arab.<br \/>\nSeorang pria dari Bani Kinanah mendengar obsesi Abrahah itu. Ia pergi ke  Yaman dan menyelinap ke dalam gereja itu di malam hari. Ia buang air  besar kemudian membuang kotorannya di kiblat gereja itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengetahui itu, Abrahah marah. Ia bersumpah akan pergi ke Mekkah dan  menghancurkan Ka\u2019bah. Abrahah mengerahkan tentara dan pasukan gajahnya.  Namun, perjalanan pasukan gajah ini terhenti di Mina. Allah swt.  membinasakan pasukan itu dengan mengirimkan serombongan Burung Ababil  yang melemparkan kerikil mematikan. Tahun terjadinya peristiwa itu  dinamakan Tahun Gajah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Ibu Susu Rasulullah SAW<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sudah menjadi tradisi kalangan terpandang Arab, bayi-bayi mereka  disusui oleh murdi\u2019at (para wanita yang menyusui bayi). Rasulullah saw.  ditawarkan kepada murdi\u2019at dari Bani Sa\u2019ad yang sengaja datang ke Mekkah  mencari bayi-bayi yang masih menyusu dengan harapan mendapat bayaran  dan hadiah. Tapi mereka menolak karena Rasulullah saw. anak yatim. Namun  Halimah Sa\u2019diyah tidak mendapatkan seroang bayi pun yang akan disusui.  Karena itu, agar pulang tanpa tangan hampa, ia mengambil Rasulullah saw.  yang yatim itu sebagai anak susuannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keberadaan Muhammad mungil memberi berkah kepada keluarga Halimah,  bahkan bagi kabilahnya. Setelah dua tahun, Halimah membawa Muhammad  kecil mengunjungi ibunya. Karena sadar bahwa keberadaan Muhammad kecil  memberi berkah kepada kampungnya, Halimah memohon Aminah agar Muhammad  kecil diizinkan tinggal kembali bersama Bani Sa\u2019ad. Aminah setuju.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Muhammad cilik dikembalikan ke Mekkah setelah terjadi peristiwa  pembelahan dada. Dua malaikat datang menghampiri Rasulullah saw. dengan  membawa bejana dari emas berisi es. Mereka membelah dada Rasulullah saw.  dan mengeluarkan hatinya. Hati itu dibedah dan dikeluarkan gumpalan  darah yang berwarna hitam. Kemudian dicuci dengan es. Setelah itu  dikembalikan seperti semula. Halimah khawatir dengan keselamatan  Muhammad cilik. Ia dan suaminya sepakat mengembalikan Muhammad kecil  kepada ibunya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Aminah dan Abdul Muthallib Wafat<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Muhammad kecil pun tinggal bersama ibunya. Ketika berusia 6 tahun,  Muhammad cilik dibawa ibunya mengunjungi paman-pamannya dari Bani Adi  bin Najjar di Yatsrib (yang kemudian hari berubah nama menjadi Madinah).  Dalam perjalanan ini Aminah wafat di Abwa dan dikuburkan di sana.<br \/>\nKemudian Muhammad cilik diasuh kakeknya, Abdul Muthallib. Namun tak  berlangsung lama, hanya 2 tahun. Abdul Muthallib wafat ketika Rasulullah  saw. berusia 8 tahun. Rasulullah saw. kemudian diasuh oleh pamannya,  Abu Thalib.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Perjalanan ke Syam<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Abu Thalib pergi berdagang ke Syam. Keponakannya, Muhammad, ikut  serta. Kafilah dagang ini tiba di Kampung Busra. Mereka bertemu dengan  seorang pendeta bernama Bahira.<br \/>\nBahira tahu tentang ajaran Nasrani dan ia paham betul tentang ciri dan  sifat Rasul terakhir yang diberitakan oleh Nabi Isa a.s. Bahira melihat  ada tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad, keponakan Abu Thalib. Ia  menasihati Abu Thalib agar segera membawa pulang keponakannya dan  waspada dengan orang-orang Yahudi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Menikah Dengan Khadijah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika berusia 25 tahun, Rasulullah saw. pergi ke Syam membawa barang  dagangan milik Khadijah. Rasulullah saw. ditemani pembantu pria  kepercayaan Khadijah bernama Maisaroh. Maisaroh memberi informasi kepada  Khadijah tentang sifat-sifat Rasulullah saw.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian setelah kembali ke Mekkah, Muhammad muda menikah dengan  Khadijah. Saat dinikahi Muhammad muda, Khadijah bersatus janda. Dari  pernikahan ini Muhammad dan Khadijah mendapatkan beberapa orang anak.  Ada riwayat yang mengabarkan Rasulullah saw. dikaruniai 2 orang anak  lelaki dari Khadijah, yaitu Qasim dan Abdullah. Namun keduanya meninggal  sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Rasulullah saw. juga  mendapat anak-anak perempuan dari Khadijah, yaitu Zainab, Ruqayyah, dan  Ummi Kulsum. Mereka mengamalkan Islam dan meninggal sebelum Rasulullah  wafat. Sedangkan putri bungsu Rasulullah saw. dari Khadijah adalah  Fathimah. Fathimah meninggal 6 bulan setelah Rasulullah saw. wafat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Berkhalwat di Gua Hira<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Muhammad suka menyendiri di  Gua Hira. Ini dikarenakan ia begitu membenci paganisme, agama kaumnya,  dan setiap perbuatan keji yang dilakukan kaumnya. Di Gua Hira Muhammad  beribadah kepada Rabbnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Membangun Ka\u2019bah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika Muhammad menginjak usia 35 tahun, orang-orang Quraisy  berkumpul untuk membangun kembali Ka\u2019bah yang rusak. Saat proses  peletakan kembali Hajar Aswad, para kabilah Quraisy bersengketa. Mereka  masing-masing merasa paling berhak melakukannya. Selisih pendapat ini  sampai pada puncaknya. Mereka siap saling berperang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi, akhirnya mereka sepakat untuk menjadikan orang yang pertama  kali masuk dari pintu masjid sebagai hakim yang memutus perkara mereka.  Dan orang yang muncul pertama kali dari masjid adalah Muhammad. Mereka  serempak mengatakan, \u201cIni dia Al-Amin. Kami ridha dengannya!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian Muhammad meminta sehelai selendang, lalu ia ambil hajar  Aswad dan meletakkannya dengan tangannya sendiri. \u201cSetiap kabilah  hendaknya mengambil sisi-sisi selendang ini lalu angkatlah  bersama-sama,\u201d begitu katanya kemudian. Setelah diangkat hingga dekat  dengan tempatnya, Muhammad mengangkat dan meletakkan dengan tangannya  sendiri Hajar Aswad di tempat yang seharusnya. Dan pembangunan itu pun  selesai dengan semua kabilah merasa senang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>dakwatuna.com &#8211; Siapa mukmin yang tidak rindu ingin bertemu dengan Rasulullah saw. Jika bertemu, pasti kita ingin memeluknya. Seperti apa ciri fisik Rasulullah saw.? Ciri Fisik Rasulullah SAW Ali bin Abi Thalib r.a. memerinci ciri <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/nabi-muhammad-saw-sebelum-diangkat-menjadi-nabi-dan-rasul\/\" title=\"Nabi Muhammad SAW Sebelum Diangkat Menjadi Nabi dan Rasul\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-1113","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-sirah-nabawiyah","7":"category-uncategorized"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1113","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1113"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1113\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1113"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1113"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1113"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}