{"id":1096,"date":"2011-01-08T22:17:37","date_gmt":"2011-01-08T15:17:37","guid":{"rendered":"http:\/\/insanpermata.com\/?p=1096"},"modified":"2011-01-08T22:17:37","modified_gmt":"2011-01-08T15:17:37","slug":"mendongeng-membangun-karakter-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/mendongeng-membangun-karakter-anak\/","title":{"rendered":"Mendongeng, Membangun Karakter Anak"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em><a href=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2011\/01\/PIC_0012.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-1097\" title=\"M4031M-4208\" src=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2011\/01\/PIC_0012-300x215.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"215\" \/><\/a>Pernahkah  Anda melihat mata anak Anda membulat penasaran mendengar cerita Anda?  Jika pernah, atau bahkan sering, berarti Anda giat memperkokoh  karakternya. Jika belum, tidak ada kata terlambat untuk mulai  mendongeng.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/www.ummi-online.com\/artikel-64-mendongeng-membangun-karakter-anak.html\"><strong>ummi-online.com<\/strong><\/a> &#8211; Ketika  televisi belum banyak dimiliki orang, hiburan anak-anak kala itu  \u2013selain bermain, tentunya\u2014adalah mendengarkan cerita dari para orang tua  di sekitar mereka, entah ayah, ibu, kakek, nenek, atau yang lainnya.  Dalam suasana hangat, anak-anak dengan penuh minat dan rasa ingin tahu  mendengarkan berbagai cerita yang dibawakan orang-orang tua mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suasana seperti itu kini jarang sekali kita lihat. Cerita dan dongeng yang disampaikan orangtua  berganti dengan tayangan film-film di televisi. Anak-anak terpaku di  depan layar televisi, sementara orangtua mengerjakan kegiatan lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><strong>Islam, kaya kisah teladan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Arti \u2018dongeng\u2019 sendiri adalah cerita fiktif atau rekaan belaka. Ditambahkan <strong>Eka Wardhana<\/strong>,  penulis buku anak, bahwa dalam dongeng ada unsur keindahan, kehangatan,  juga imajinasi. \u201cJadi kalau cerita fiktifnya itu seram, horor, penuh  kekerasan, menurut saya itu bukan dongeng,\u201d jelas Eka. Dalam dongeng  semua makhluk khayalan bisa tercipta, seperti pohon dan binatang yang  bisa bicara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara,  untuk sejarah yang berisi cerita kepahlawanan dan teladan kebaikan bisa  masuk dalam kategori kisah. Namun, menurutnya pengistilahan ini tidak  terlalu penting. Baginya yang terpenting adalah kegiatan bercerita itu  sendiri, yaitu bagaimana nilai-nilai kebaikan disampaikan kepada anak  melalui cara bercerita yang menarik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Soal  keefektifan cerita dalam membentuk karakter anak tak diragukan lagi  &#8211;bahkan mampu membangun karakter bangsa\u2014kata Eka,. Berdasarkan sebuah  sumber, Eka menyebut betapa lebih majunya Inggris dibanding Spanyol pada  masa kolonialisme akibat dongeng dan kisah-kisah kepahlawanan yang sering diceritakan orangtua pada anak-anaknya.  Tak heran negara jajahan Inggris di berbagai belahan dunia, dari Asia  sampai Afrika, lebih banyak daripada Spanyol.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bila saja kebiasaan bercerita ini dilakukan masyarakat Muslim dengan tak lupa mengambil kisah-kisah kepahlawanan Rasulullah saw dan para sahabatnya, sangat mungkin masa kejayaan Islam akan cepat kembali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Betapa  lengkap teladan kebaikan yang ada dalam kisah Rasul dan para  sahabatnya. \u201cBerbagai karakter ada di situ. Ada kisah tentang jiwa  ksatria, jiwa pengusaha. Banyak contohnya dan itu nyata, bukan dongeng!  Sementara kalau cerita dari orang Barat itu kan kebanyakan dongeng,\u201d  kata lulusan Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung ini.  Apalagi bila masyarakat Muslim lebih memperkaya jenis dongeng dengan  tetap berpijak kepada ajaran Islam, maka semakin banyak alternatif  cerita yang bisa dikembangkan dan diceritakan kepada anak-anak kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam Al-Quran kisah-kisah teladan pun bertebaran. Bahkan sebagian besar isi Al-Quran berupa kisah. Kisah kepahlawanan dan kisah penuh motivasi lainnya, tak kurang-kurangnya diurai dalam Al-Quran, Hadits dan sumber lainnya. Namun,  herannya entah kenapa generasi Muslim tetap saja melempem. \u201cMungkin  karena orang Islam telah mengabaikan kisah-kisah ini,\u201d imbuh Direktur  Studio Rumah Pensil ini prihatin. Tak banyak orangtua yang menceritakan kisah-kisah itu pada anak-anaknya. Yang masuk ke rumah-rumah keluarga Muslim bukan lagi kisah teladan dalam Islam, tapi kisah-kisah rekaan yang tak jelas, semacam Naruto dan sebagainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa  mendongeng kurang diminati? Mungkin sebagaimana pola pendidikan  lainnya, ia tidak menunjukkan hasil yang instan. Padahal dongeng atau  cerita-cerita teladan banyak masuk ke alam bawah sadar, di mana alam bawah sadar inilah yang kemudian paling berperan membentuk karakter atau akhlak seorang anak. \u201cJadi  kalau dongeng itu diceritakan terus menerus, maka yang masuk ke alam  bawah sadarnya semakin banyak. Nah, kalau ceritanya yang baik-baik, maka  yang masuk ke alam bawah sadarnya tentu yang baik-baik pula. Kalau yang  diceritakan orangtua kisah-kisah kepahlawanan, kebaikan, persahabatan,  maka akan seperti itulah sifat anak nantinya,\u201d jelas Eka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bayangkan saja kalau yang masuk ke alam bawah sadar anak justru cerita dan materi yang penuh kekerasan dan vulgar, maka akhlak atau karakter anak seperti apa yang akan tercipta kemudian?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Menjalin kedekatan antara orangtua dan anak<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong> <\/strong>Saat  mendongeng atau bercerita selain terjadi transfer nilai, terjalin juga  kedekatan antara orangtua dan anak. Ketika mendengar dongeng atau cerita  lainnya dari orangtua, anak-anak akan semakin merasa dekat dan terikat  dengan orangtuanya. \u201cSaat mendengarkan dongeng, anak-anak akan terikat  dengan tokoh dalam cerita dan orang yang bercerita (dalam hal ini  orangtua\u2013<em>red<\/em>). Ikatan emosionalnya itu kuat. Kalau dengan televisi, mereka tidak akan terikat sedemikian kuat,\u201d papar ayah 4 anak ini. <strong> <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi  anak, kedekatan ini dapat mengalahkan kegiatan lainnya. Menurut Eka,  dengan amat mudah anak-anak akan berpaling dari televisi, <em>game<\/em>,  dan sebagainya demi mendengarkan orangtuanya bercerita. Apalagi bila  selama bercerita orangtua juga menyentuh dan memeluk anak, membelai  rambutnya, kehangatan dan kasih sayang tentu akan mengalir. Sentuhan ini  selain menambah kedekatan juga akan membuat anak bertambah cerdas.  \u201cSetiap kali dipeluk, anak akan merasa bahagia. Nah, perasaan bahagia  ini akan membuat anak mudah menyerap informasi dan membuat <em>neuron<\/em> (sel-sel syaraf dan percabangannya\u2013<em>red<\/em>)  anak bersambung terus menerus. Makanya sering dikatakan kalau anak  dipeluk, dia akan bertambah cerdas karena koneksi neuronnya bertambah  banyak,\u201d terang pria kelahiran Jakarta, 38 tahun silam ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selama  orangtua bercerita, acap kali anak bertanya ini itu. Entah bertanya  tentang tokoh, kejadian dalam cerita, dan sebagainya. Ini  mengindikasikan telah terjadi komunikasi yang baik antara anak dan  orangtua. Bila selama ini hal itu mungkin belum tercipta, dengan  mendongeng dan \u2018sesi\u2019 tanya jawab di dalamnya akan melancarkan saluran  komunikasi yang tersumbat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegiatan mendongeng ini pun bisa mengembangkan imajinasi anak. Eka mencontohkan, ketika orangtua memulai cerita dengan kalimat, <em>\u201cDulu, ada seorang raksasa\u2026,\u201d<\/em> maka segera saja daya imajinasi anak bekerja dan membayangkan sosok  raksasa tersebut. Selama orangtua bercerita, imajinasi anak terus  berlarian mengikuti jalan cerita. Pengembangan daya imajinasi ini  penting sebagai dasar mengembangkan kreativitas anak, dan ini bisa  didapat dari kegiatan mendongeng.<strong><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Eka  lalu menuturkan bahwa kegiatan mendongeng pun akan mendorong anak untuk  gemar membaca. \u201cAnak yang sering didongengkan waktu kecil, hampir pasti  akan senang membaca,\u201d katanya.  Setelah mendengar dongeng, anak-anak akan punya keinginan untuk membaca  sendiri kisah tersebut dari buku-buku. Sekali dia merasakan keasyikan  membaca, mereka akan terus senang membaca.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegemaran  membaca ini tentu saja penting untuk membuka dan mengembangkan ilmu dan  wawasan anak-anak pada berbagai hal. \u201cTidak ada orang besar di dunia  ini yang tidak senang membaca,\u201d imbuh Eka seraya menambahkan \u2018membaca\u2019  di sini tak terbatas pada membaca buku, tapi juga \u2018membaca\u2019 alam dan  lingkungan sekitar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong> <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Sebentar, tetapi sering<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Banyak orangtua dan guru yang tidak membiasakan mendongeng karena merasa tak  bisa bercerita, apalagi bila mereka harus bercerita dengan gaya yang  menarik. Untuk mengatasi kendala ini, Eka menyarankan agar, <em>pertama,<\/em> orangtua harus mulai  \u2018belajar\u2019 bicara kepada anak dengan lebih hangat. \u201cBerikan lebih banyak  pujian ketimbang kritikan. Kalau anak diperlakukan dengan hangat, dia  akan menjadi orang yang hangat. Sementara kalau anak diperlakukan dengan  keras, mereka akan jadi keras,\u201d kata Eka. Bicara dengan kehangatan ini  akan membuat kedekatan dan keakraban hingga kemudian dalam kondisi itu orangtua akan mudah menceritakan apa saja pada anak, termasuk mendongeng. Anak-anak pun akan terbuka kepada orangtuanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Kedua<\/em>,  agar orangtua bisa bercerita tentu saja orangtua harus banyak membaca  buku. Apalagi biasanya buku cerita anak-anak itu tidak terlalu tebal,  jadi tidak menghabiskan waktu orangtua untuk membaca dan  menceritakannya kembali kepada anak-anak. Untuk memulai, orangtua memang  bisa mengambil cerita dari buku, selanjutnya apa saja yang terjadi di  sekitar kita bisa menjadi cerita. Semua kejadian bisa diceritakan secara menarik, terutama bila orangtua telah terbiasa bercerita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekali  bercerita, tak perlu terlalu lama. Sekitar 15 menit sampai 20 menit,  cukuplah, karena untuk usia tertentu, misalnya usia balita, perhatian  anak-anak cepat teralihkan kepada hal lainnya. Tapi untuk usia yang  lebih besar, bisa jadi waktu bercerita bisa sampai 1 jam atau lebih, apalagi bila ceritanya menarik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Eka, yang terpenting bukanlah lamanya  waktu bercerita. \u201cYang penting adalah kualitas dan kuantitasnya. Walau  cuma beberapa menit, tapi dilakukan setiap hari, akan lebih efektif  dibanding satu atau dua jam tetapi dilakukan hanya sekali sebulan,\u201d urai  Eka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat  yang tepat untuk bercerita pun tak mesti menjelang tidur sebagaimana  yang selama ini kita pahami sebagai waktu mendongeng. \u201cKalau anak mau  tidur malam biasanya banyak sekali hambatannya, entah sudah sangat  mengantuk, ada PR yang belum selesai, orangtua yang capek karena baru pulang dan sebagainya,\u201d kata Eka. Maka untuk mendongeng, tak perlu menunggu waktu tidur. Bercerita atau mendongenglah kapan pun selagi sempat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi,  melihat berbagai keutamaan mendongeng bagi perkembangan anak,  semestinya orangtua dan guru mulai membiasakan diri untuk mendongeng  kapan saja. Jangan mau dikalahkan televisi atau bermacam bentuk <em>game<\/em>, karena pada dasarnya anak lebih suka berdekatan dan mendengarkan cerita dari orangtuanya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong><em>(Asmawati\/wawancara Didi Muardi)<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>Pernahkah Anda melihat mata anak Anda membulat penasaran mendengar cerita Anda? Jika pernah, atau bahkan sering, berarti Anda giat memperkokoh karakternya. Jika belum, tidak ada kata terlambat untuk mulai mendongeng. ummi-online.com &#8211; Ketika televisi belum <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/mendongeng-membangun-karakter-anak\/\" title=\"Mendongeng, Membangun Karakter Anak\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-1096","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-artikel","7":"category-uncategorized"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1096","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1096"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1096\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1096"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1096"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1096"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}