{"id":1092,"date":"2011-01-08T20:59:11","date_gmt":"2011-01-08T13:59:11","guid":{"rendered":"http:\/\/insanpermata.com\/?p=1092"},"modified":"2011-01-08T20:59:11","modified_gmt":"2011-01-08T13:59:11","slug":"anak-sekarang-cepat-gede","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/anak-sekarang-cepat-gede\/","title":{"rendered":"Anak Sekarang Cepat Gede"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/www.ummi-online.com\/artikel-114-anak-sekarang-cepat-gede.html\"><strong><strong><a href=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2011\/01\/sholat.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-1093\" title=\"sholat\" src=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2011\/01\/sholat-300x232.png\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"232\" \/><\/a><\/strong>ummi-online.com<\/strong><\/a> &#8211; Tiba masanya seorang anak beranjak  remaja. Berbagai perubahan terjadi pada fisik dan psikis anak di masa  pubertas. Perubahan ini kadang membingungkan mereka, apalagi bila masa  pubertas itu datang terlalu dini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Banyak  definisi tentang pubertas, tapi intinya pubertas adalah masa peralihan  dari kanak-kanak menuju dewasa. Masa ini terjadi pada kisaran usia 11  atau 12 tahun, bisa lebih cepat atau lebih lambat. Selain perubahan  fisik dan psikis, pubertas menunjukkan kematangan fungsi seksual, pada  anak perempuan ditandai keluarnya haid pertama (<em>menarche<\/em>). Sedangkan pada anak laki-laki munculnya \u201cmimpi basah\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Beberapa tanda fisik pun menyertai  tahapan ini. Pada anak perempuan, antara lain, mulai membesarnya  payudara, tumbuhnya rambut di ketiak dan kemaluan, keringat yang  bertambah banyak, dan panggul yang melebar. Sementara pada anak  laki-laki, suara menjadi lebih berat, tumbuhnya rambut di ketiak,  kemaluan dan di wajah (kumis, jenggot), tumbuh jakun, keringat yang  bertambah banyak, otot menguat dan sebagainya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><strong><!--more-->Takut karena tak paham<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Masalah psikologis yang biasanya dihadapi anak-anak yang mengalami pubertas, kata Psikolog <a name=\"DDE_LINK\"><strong>Nurul Annisa<\/strong>, <strong>M.Psi<\/strong><\/a><strong>,<\/strong> lebih banyak disebabkan adanya ketidaknyamanan dan ketidakpahaman  terhadap perubahan fisik yang mereka alami. Munculnya jerawat, bau  badan, bentuk tubuh yang mulai berubah di sana sini, kadang membuat  sebagian anak merasa tak nyaman, bahkan timbul rasa tidak percaya diri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Keadaan ini tak bisa  dibiarkan berlarut karena berimbas pada perkembangan psikologi anak  selanjutnya. Bila rasa tak percaya diri ini dibiarkan, kelak bisa  menciptakan konsep diri negatif pada anak. Maka yang mesti dilakukan  adalah memberi pengertian tentang keadaannya. \u201cKetidakpahaman ini akan  berangsur pulih ketika anak membicarakannya dengan orang yang lebih  mengerti, seperti orangtua atau gurunya,\u201d jelas psikolog di Klinik  Kancil, Kemang, Jakarta Selatan ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tentu itu bisa  dilakukan bila sudah tercipta komunikasi yang baik antara orangtua dan  anak agar mereka tidak mendapat informasi yang salah dan menyesatkan  soal perubahan yang mereka alami.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Namun, diakui Nurul,  anak-anak kini kebanyakan sudah mengetahui apa yang akan mereka alami  saat puber melalui media (termasuk internet) yang semakin mudah mereka  akses. Sebagian sekolah dasar pun memberikan materi pendidikan seks yang  memberi wawasan seks yang tepat pada anak. Jadi, ketika mereka  benar-benar mengalaminya, tak ada rasa takut atau cemas lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><strong>Pubertas terjadi semakin dini<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><strong> <\/strong>Bila  umumnya pubertas terjadi di usia sekitar 11 atau 12 tahun, ternyata  belakangan ini usia pubertas semakin muda saja. Misalnya, anak perempuan  8 tahun sudah menstruasi. Atau, anak laki-laki usia 11 tahun tapi  tubuhnya menyerupai remaja 17 tahun. Kondisi ini disebut pubertas dini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Nurul  menjelaskan bila kondisi pubertas dini semakin sering terjadi, semakin  banyak anak yang cepat \u201cgede\u201d, terutama secara fisik. Semua itu tak  terlepas dari faktor asupan makanan dan lingkungan. \u201cSecara biologis,  pubertas dini bisa disebabkan makanan. Misalnya makanan siap saji yang  tidak sehat yang berperan pada peningkatan hormon-hormon reproduksi dan  pertumbuhan. Sementara faktor lingkungan, terutama dipengaruhi oleh  media dan mudahnya mengakses internet,\u201d papar ibu tiga anak ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Lingkungan memang tidak berpengaruh terhadap hormon, namun lebih  terhadap persepsi anak tentang dunia orang dewasa. Dari film yang mereka  tonton, mereka bisa menganggap pacaran adalah hal yang lumrah dan wajar  dilakukan. Tak heran bila anak usia sekolah dasar sudah berpacaran.  Parahnya, masih kata Nurul, mereka bahkan menganggap pelukan dan ciuman  bukan sesuatu yang tabu lagi. Inilah kenapa orangtua harus mengawasi  media yang dikonsumsi anak demi menjaga nilai-nilai pendidikan yang  selama ini ditanamkan orangtua, termasuk pendidikan agama.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tak beda  jauh dengan anak-anak yang mengalami puber secara normal, masalah yang  dihadapi anak yang puber dini adalah ketidakpahaman. Pertumbuhan mereka  yang mendahului anak-anak lainnya bisa juga memicu stres karena mereka  merasa berbeda. Mereka merasa lebih tua daripada teman-temannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Lagi-lagi, peran orangtualah untuk memberi pemahaman kepada anak bahwa  yang mereka alami adalah tahapan yang wajar, meski terjadi lebih dulu  dibanding teman-temannya. Sementara itu, walau penampilan dan fisiknya  anak yang mengalami pubertas dini ini lebih dewasa dari anak seusianya,  tetap perlakukan mereka sesuai usianya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Perhatikan pula pergaulan mereka agar  tak keluar jalur. Mungkin karena tubuh dan penampilannya itu mereka  merasa pantas bergaul dengan teman-teman remaja. Sebenarnya secara  psikologis, termasuk pola pikir, mereka belum siap menjalani pergaulan  yang lebih dewasa. Pendampingan orangtua amat dibutuhkan di sini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Anak memang tak selamanya  menjadi anak-anak. Cepat atau lambat mereka beranjak remaja dan kemudian  dewasa. Adalah tugas orangtua untuk memahami setiap tahapan  perkembangan anak, hingga mampu mengatasi masalah yang timbul dalam  perjalanan hidup seorang anak, termasuk saat anak mengalami pubertas  dini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><strong>Asmawati\/wawancara: Firda Kurnia<\/strong><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>ummi-online.com &#8211; Tiba masanya seorang anak beranjak remaja. Berbagai perubahan terjadi pada fisik dan psikis anak di masa pubertas. Perubahan ini kadang membingungkan mereka, apalagi bila masa pubertas itu datang terlalu dini. Banyak definisi tentang <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/anak-sekarang-cepat-gede\/\" title=\"Anak Sekarang Cepat Gede\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-1092","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-artikel","7":"category-uncategorized"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1092","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1092"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1092\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1092"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1092"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1092"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}