{"id":1087,"date":"2011-01-08T20:12:25","date_gmt":"2011-01-08T13:12:25","guid":{"rendered":"http:\/\/insanpermata.com\/?p=1087"},"modified":"2011-01-08T20:12:25","modified_gmt":"2011-01-08T13:12:25","slug":"ummu-khair-binti-syakir-kesetiaan-sang-anak-mengetuk-nuraninya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/ummu-khair-binti-syakir-kesetiaan-sang-anak-mengetuk-nuraninya\/","title":{"rendered":"Ummu Khair binti Syakir, Kesetiaan Sang Anak Mengetuk Nuraninya"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\"><strong><strong><a href=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2011\/01\/padang-rumput.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-full wp-image-1088\" title=\"padang rumput\" src=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2011\/01\/padang-rumput.jpg\" alt=\"\" width=\"250\" height=\"168\" \/><\/a><\/strong><a href=\"http:\/\/www.ummi-online.com\/artikel-122-ummu-khair-binti-syakir-kesetiaan-sang-anak-mengetuk-nuraninya.html\">ummi-online.com<\/a><\/strong> &#8211; Ummu Khair adalah ibunda Abu Bakar  Ash-Shidiq. Sebelum Abu Bakar, Ummu Khair memiliki beberapa anak namun  semuanya berumur pendek. Karena itu, ketika melahirkan Abu Bakar, ia  langsung membawanya ke Ka\u2019bah lalu berkata, \u201cYa Allah ini adalah Atiq-Mu  (yang Engkau bebaskan dari maut). Hibahkan ia kepadaku.\u201d Sehingga Abu  Bakar pun dikenal dengan sebutan Atiq bin Abu Quhafah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Abu Bakar tumbuh menjadi lelaki  istimewa. Di saat kaumnya menyembah berhala, ia justru membenci patung  bisu itu. Abu Bakar juga dikenal cerdas, pandai berdagang, lemah lembut  dan tidak meminum\u00a0khamr.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Keistimewaan lainnya disampaikan Azad,  ahli kitab dari Yaman. Azad menyampaikan akan datang seorang nabi di  wilayah Haram dan nabi tersebut akan didukung sepenuhnya oleh seorang  pemuda dan lelaki dewasa. Ciri lelaki dewasa itu\u00a0berkulit putih dan  berbadan kurus, di perutnya terdapat tanda hitam dan di paha kirinya\u00a0ada  tanda lain. Ternyata ciri-ciri itu ada pada Abu Bakar. Azad meyakinkan  Abu Bakar bahwa dialah yang dimaksud.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><!--more-->Dengan segala keistimewaannya itu tak  heran jika Allah &#8216;memilih&#8217; Abu Bakar untuk mendampingi Rasulullah dalam  pahit getirnya perjuangan dakwah Islam.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Pada suatu hari Abu Bakar pingsan. Ia  dipukuli Utbah bin Rabi\u2019ah karena mendakwahkan Islam terang-terangan.  Saat siuman, ia langsung menanyakan keadaan Rasulullah. Bahkan ia  memohon agar ibunya sudi mendatangi rumah Fathimah binti Khattab untuk  mengetahui kabar sahabat yang dicintainya itu. Demi menenangkan buah  hatinya, Ummu Khair mendatangi Fathimah. Adik Umar bin Khattab itu pun  kemudian bertemu dengan Abu Bakar.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cRasulullah selamat. Saat ini beliau  berada di rumah Arqam bin Abu Arqam,\u201d kata Fathimah, pelan. Abu Bakar  berkeras ingin menemui Rasulullah saw. Namun Ummu Khair memintanya  menunggu sampai kondisinya pulih.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Melihat kesetiaan buah hatinya terhadap  Muhammad, Ummu Khair mulai memikirkan agama baru yang menyebabkan para  sahabat Muhammad rela berkorban dalam memperjuangkannya. Ia tahu persis  putranya memiliki akal cemerlang. Ia juga tahu kepribadian Muhammad yang  mulia. Akhirnya ia memutuskan dakwah yang dibawa Muhammad dapat  diterima akal sehat dan menenteramkan hatinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Setelah kondisi Abu Bakar membaik, Ummu  Khair mengantarkannya menemui Muhammad Rasulullah di rumah Arqam. Dengan  tertatih, Abu Bakar berjalan sambil berpegangan pada ibunya. Rasulullah  pun menyambutnya penuh kasih sayang. Beliau menghampiri Abu Bakar dan  menciumnya. Para sahabat juga melakukannya. Air mata mereka berderai,  terharu melihat Abu Bakar.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Abu Bakar berkata, \u201cDemi bapak dan  ibuku, wahai Rasulullah! Tidak ada sesuatu yang berbahaya menimpaku  kecuali pukulan yang mengenai wajahku. Ini adalah ibuku yang baik  bersama putranya. Semoga Allah menyelamatkannya dengan perantaraanmu  dari api neraka.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Rasulullah mendoakan Ummu Khair seraya  membacakan beberapa ayat Al-Qur&#8217;an. Seketika itu juga Ummu Khair  berkata, \u201cAku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi  Muhammad adalah utusan Allah.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Abu Bakar sontak memeluk ibunya. Ia terharu dan bersyukur menyaksikan keislaman ibundanya tercinta.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><strong>Aini Firdaus<\/strong><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>ummi-online.com &#8211; Ummu Khair adalah ibunda Abu Bakar Ash-Shidiq. Sebelum Abu Bakar, Ummu Khair memiliki beberapa anak namun semuanya berumur pendek. Karena itu, ketika melahirkan Abu Bakar, ia langsung membawanya ke Ka\u2019bah lalu berkata, \u201cYa <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/ummu-khair-binti-syakir-kesetiaan-sang-anak-mengetuk-nuraninya\/\" title=\"Ummu Khair binti Syakir, Kesetiaan Sang Anak Mengetuk Nuraninya\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-1087","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-sirah-nabawiyah","7":"category-uncategorized"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1087","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1087"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1087\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1087"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1087"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1087"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}