{"id":1076,"date":"2011-01-08T19:16:16","date_gmt":"2011-01-08T12:16:16","guid":{"rendered":"http:\/\/insanpermata.com\/?p=1076"},"modified":"2011-01-08T19:16:16","modified_gmt":"2011-01-08T12:16:16","slug":"say-yes-to-breakfast","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/say-yes-to-breakfast\/","title":{"rendered":"Say Yes to Breakfast"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\"><em><a href=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2011\/01\/sarapan.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-full wp-image-1077\" title=\"sarapan\" src=\"http:\/\/insanpermata.com\/wp-content\/uploads\/2011\/01\/sarapan.jpg\" alt=\"\" width=\"236\" height=\"157\" \/><\/a>Sarapan bikin gemuk? Ada yang bilang malah bisa memperlancar otak? Lalu mana yang benar? Sebenarnya apa pentingnya sarapan pagi?<\/em><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><em><a href=\"http:\/\/www.ummi-online.com\/artikel-113-say-yes-to-breakfast.html\"><strong>ummi-online.com<\/strong><\/a> &#8211; B<\/em>anyak orang menyepelekan makan pagi atau sarapan. Alasannya, takut mengantuk di kala kerja<em>.<\/em> Atau sudah terbiasa tidak sarapan. Bahkan seorang ibu beralasan,  \u201cAnak-anak lagi aktif-aktifnya. Kalau disuruh sarapan nanti mereka  kehilangan waktu buat main, kan makannya lama.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Padahal menurut <strong>Ahmad Faridi, SP<\/strong>,  Kepala Program Studi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas  Muhammadiyah Prof Dr Hamka, sarapan sangat baik dan penting bagi tubuh.  Pada malam hari, saat tubuh istirahat, ternyata semua organ metabolisme  tubuh tetap bekerja. Hingga ketika pagi datang, lambung sudah kosong dan  butuh diisi lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Bayangkan sebuah mobil dengan bensin  yang terbatas atau bahkan kosong. Tentu tidak akan lancar saat dipakai.  Begitu juga tubuh kita. Sarapan ibarat bensin yang menjadi \u2018bahan bakar\u2019  untuk beraktivitas. Tanpanya kita akan lemas, mengantuk, kurang  konsentrasi dan performa tubuh turun.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><strong><!--more-->Diet dengan sarapan?<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Faridi menyatakan sarapan bermanfaat  untuk jangka pendek dan jangka panjang. Sarapan itu, kata Ahmad Faridi,  melancarkan metabolisme tubuh, meningkatkan kadar glukosa dalam darah  dan otak, meningkatkan konsentrasi belajar, produktivitas kerja,  kemampuan berpikir dan kemampuan fisik. \u201cSarapan juga membuat seseorang  lebih sehat karena kadar hemoglobin tersedia dengan jumlah yang cukup  dalam darah,\u201d ujar lelaki yang akrab disapa Faridi ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Bagaimana dengan mitos sarapan <em>bikin <\/em>gemuk?  Faridi mengilustrasikan teori \u201cbalas dendam\u201d.\u00a0Perempuan dewasa  membutuhkan sekitar 2000 kalori setiap harinya. Jika dibagi tiga, yaitu  untuk makan pagi, siang dan malam, porsinya menjadi 650 kalori tiap kali  makan. Jika\u00a0tidak sarapan, maka orang akan berusaha memenuhinya di  siang hari. \u201cNah inilah yang sebenarnya menyebabkan balas dendam. Karena  porsi makan siang yang terlalu banyak, ia pun berpotensi mengantuk.  Dan, aktivitas setelah makan, seperti nonton TV, justru itu yang bisa  bikin gemuk,\u201d ujar bapak 2 anak ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Masih menurut Faridi, diet itu bukanlah  tidak makan sama sekali seperti anggapan banyak orang. Tetapi mengurangi  kadar kalorinya, dari 2000 menjadi 1500. Ini juga harus dihitung dan  disesuaikan dengan berat dan tinggi tubuh. Jika tidak hati-hati obsesi  tubuh kurus malah membawa penyakit. Ahli gizi dan dokter adalah dua  orang yang harus ditemui ketika seseorang memutuskan untuk diet. Ahli  gizi dapat menakar berapa kalori yang boleh dikonsumsi, sedangkan dokter  untuk melihat kemungkinan terkena penyakit pascadiet. Nah, sarapan  teratur membantu seseorang menyukseskan program dietnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Lalu bagaimana jika waktu kita cukup  sempit di pagi hari hingga tak sempat sarapan? Faridi memberi solusi,  sarapan dengan roti dan susu pun cukup, tidak harus makanan lengkap yang  terdiri dari nasi, sayur, daging, buah dan susu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Strategi lain adalah mengatur waktu  sarapan. Saat yang paling baik untuk sarapan adalah pukul enam pagi,  sebab proses metabolisme tubuh kita selesai kira-kira pukul lima pagi.  Dengan mengatur jadwal, sarapan tentu bukan hal yang mustahil dilakukan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><strong>Makanan untuk otak<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Salah satu fungsi utama sarapan adalah  memberi makanan ke otak. Faridi telah membuktikan saat meneliti 100  siswa SD di Jakarta Timur pada 2000 lalu. Ia meneliti keterkaitan  sarapan dan konsentrasi belajar siswa. Hasilnya, anak yang rutin sarapan  memiliki tingkat konsentrasi yang lebih tinggi dibanding mereka yang  tidak.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Mengapa demikian? Karena otak  membutuhkan suplai glukosa secara terus menerus. Saat kekurangan  glukosa, otak akan mengalami kemunduran. Itulah sebabnya sarapan  membantu bagian tubuh yang memiliki 100 juta sel saraf ini menjadi lebih  cerdas, peka dan lebih mudah berkonsentrasi saat belajar dan bekerja.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Glukosa banyak terdapat dalam  karbohidrat. Ahli gizi sepakat karbohidrat yang baik adalah karbohidrat  kompleks seperti yang terdapat pada nasi, roti, mie, pasta dan tanaman  berumbi seperti kentang singkong, dan ubi. Namun Faridi lebih  menyarankan untuk mengonsumsi nasi saat sarapan pagi. \u201cNasi itu bisa  bertahan 3-4 jam di lambung sedangkan roti biasanya dua jam saja,\u201d imbuh  pria yang aktif di LSM Aisyiyah itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><strong> <\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><strong>Camilan, ringan tapi penting <\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Makanan ringan alias camilan antara  makan pagi-siang dan makan siang-malam ternyata sangat penting buat  tubuh. Fungsi camilan adalah menambah energi sebelum makan besar. Hal  itu berguna terutama untuk mereka yang memiliki banyak aktivitas  termasuk anak-anak. \u201cIni berlaku untuk semua orang sehat. Kalau orang  punya penyakit maag hukumnya jadi <em>fardu ain<\/em>, karena lambungnya tidak boleh kosong,\u201d gurau lulusan IPB ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Khusus untuk anak-anak, sebaiknya ibu  menyiapkan makanan ringan dari rumah. Ini untuk mencegah mereka jajan  sembarangan yang tidak terjamin kebersihan dan keamanannya. Repotnya,  anak sering iri melihat temannya jajan. Nah, untuk menyiasati itu, ibu  harus lebih kreatif menyiapkan variasi camilan yang menarik tapi  menyehatkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jika saat sarapan sudah dengan porsi  berat, maka camilan yang bisa diberikan adalah\u00a0yang ringan seperti  kacang-kacangan atau buah. Namun jika sarapannya sedikit, tidak mengapa  diberikan camilan seperti roti.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Makanan ringan terbaik adalah buah dan  sayuran. Alasannya, buah hanya memiliki sedikit kalori sehingga tidak  masalah jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak, bahkan di luar waktu  camilan, asal tidak berlebihan. Mengonsumsi buah sebagai camilan adalah  saran dari banyak ahli gizi karena buah membantu metabolisme tubuh  seperti memperlancar buang air besar. Selain buah, susu dan agar-agar  juga bisa jadi camilan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><strong>Firda Kurnia\/Aini Firdaus wawancara: Firda Kurnia<\/strong><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>Sarapan bikin gemuk? Ada yang bilang malah bisa memperlancar otak? Lalu mana yang benar? Sebenarnya apa pentingnya sarapan pagi? ummi-online.com &#8211; Banyak orang menyepelekan makan pagi atau sarapan. Alasannya, takut mengantuk di kala kerja. Atau <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/say-yes-to-breakfast\/\" title=\"Say Yes to Breakfast\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,13,1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-1076","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-artikel","7":"category-pengetahuan-umum","8":"category-uncategorized"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1076","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1076"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1076\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1076"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1076"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.insanpermata.sch.id\/utama\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1076"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}