AT Mahmud dan Karyanya

Lenny Oktaviana Dewi,S.Pd

Staf Pengajar, Guru Menyanyi SDIT Insan Permata Malang

(dimuat di harian SURYA, Jumat tanggal 9 Juli 2010)

Ambilkan bulan bu….ambilkan bulan bu,

Yang slalu bersinar di langit

Di langit bulan benderang, cahyanya sampai ke bintang….

Tiba-tiba saya begitu ingin berdendang lagu cantik itu pagi ini. Sembari beres-beres rumah terbayang wajah kalem sang Pencipta lagu anak tersebut.  Semalam setelah mendengar kabar bahwa beliau telah berpulang di usia 80 tahun karena stroke dan infeksi paru-paru dari TV, sejenak hati saya masygul dan merasa begitu kehilangan. Meskipun di akhir hidupnya belum saya jumpai pengganti beliau tapi saya bertekad melestarikan karya-karya beliau untuk anak cucu saya.

Dalam sebuah wawancaranya dengan TV One, Tasya yang menyanyikan Anak Gembala di usianya yang tujuh tahun waktu itu mengatakan, “Eyang AT adalah seorang pendidik.” Dan saya yakin semua anak Indonesia sangat menyukai lagu itu. Sepuluh tahun yang lalu Tasya menyanyikan dan mempopulerkannya. Sepuluh tahun yang lalu saya masih mahasiswa. Betapa menyenangkan lagu itu, bahkan untuk seorang dewasa seusia saya. Saya melihat Tasya menyanyikan kembali di usianya yang ke tujuh belas tetap asyik dan luar biasa.

Di tengah maraknya AFI Junior dan Idola Cilik, sangatlah mungkin sebetulnya mengangkat lagu-lagu anak yang lebih memanusiakan para kontestan itu. Bayangkan betapa kerdilnya jiwa mereka yang hanya memuaskan kesenangan orang-orang dewasa sebagai juri dan penontonnya. Miris sekali mendengarkan mereka berdendang lagu-lagu patah hati dan  cinta semu pekerjaan orang-orang dewasa yang banyak masalah.

Ketika sesi Micro Teching di sekolah, Guru Pamong saya pernah bertanya, “Apakah tugas Anda sebagai Guru, mengajar atau mendidik?” Saya sempat bingung menjawabnya. Dalam hati saya mengiyakan kedua-duanya. Tapi saya sangat ragu mengungkapkannya. Saat itu saya hanya berpikir takut disalahkan. Beliau sangat senior dan sudah sepuh, pasti jawaban saya tidak ada betulnya. Dan akhirnya saya beranikan diri menyampaikan kalau saya mendidik. Saya tetap disalahkan karena yang betul tugas seorang guru adalah mengajar dan mendidik. Artinya transfer ilmu itu ya pasti tapi yang harus dilakukan seorang guru adalah mendidik.

Mendidik lebih luas maknanya dari mengajar. Mendidik membawa muatan spiritual. Ada hati yang berperan. Ada jiwa yang mengukir perasaan. Taruhlah mengajarkan matematika. Selain konsep penjumlahan dan perkalian, apa yang ada di benak anak didik kita ketika kita sebagai guru menyampaikan deretan ganjaran bagi pelaku sholat berjamaah. Duapuluh tujuh derajat  dikalikan lima. Lalu mereka membandingkan jumlah pahala orang yang sholat berjamaah dengan yang sholat sendiri. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Begitulah seorang guru, tanggung jawab moral memberikan Quality Assurance, jaminan kualitas anak didiknya yang akan dipertanggung  jawabkan tidak hanya kepada orang tua yang sudah menitipkan anaknya tapi yang terpenting kepada Sang Pencipta.

Eyang AT adalah seorang pendidik. Lihatlah karya-karyanya. Selain syair dan lagu yang mudah diingat, beliau sangat bertanggung jawab terhadap isi atau syair lagu-lagunya. Beliau sangat paham jiwa anak-anak yang suci dan putih seperti kertas. Orang tuanyalah yang akan mengisi lembar putih itu, menjadikan apa dan bagaimana buah hatinya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*